Find Me on Social Media

Image Slider

THREENAGER: Worst or Better?

Thursday, 2 August 2018



This post been stuck in my draft for so long, but I don’t intend to change it anyway. Udah lewat hampir dua bulan dari ulang tahun Leon ketiga. But it’s okay lah yaaa, better late than never 😁

Beberapa minggu lalu tepatnya 23 Juni 2018, anak semata wayangku ulang tahun. Kata orang kan momen saat kita punya anak itu bener-bener kilat. Every seconds matters. Every moment‘s precious. Like a blink of an eye.









Rasanya baru kemarin nak memeluk kamu pertama kali di ruang operasi, sungguh jelas teringat di benak mama . Dengan suara tangis membahana yang bikin nggak tahan untuk menitikkan air mata juga. Mengalir begitu saja seiring dengan perasaan bahagia dan takjub tak terkira. Dengan tangan mungil kamu menyentuh payudara mama dan kita saling terjaga. Sungguh indah hadirnya kamu di dunia, melengkapi kisah cinta papa dan mama.

Tak pernah terbayang mencintai kamu sepenuhnya akan begitu menyiksa. Penuh ketakutan dan keraguan apa bisa mama merawat dan membesarkan di usia yang belia. Untuk selalu siap belajar akan hal baru tentang kita berdua. Perjuangan panjang yang kata orang bahkan seumur hidup untuk kehilangan diri mama. Demi masa depan mu kelak, membimbing kamu agar berhati besar dan bijaksana.



Tiga tahun sudah kita jalani bersama, waktu berjalan sungguh tak terasa. Sekarang tangan mungil mu sudah bisa memanjat sana sini bahkan bisa membantu mama. Banyak hal sudah kamu pahami, mana yang baik dan buruk, sudah bisa copy paste segala gerak gerik orang juga. Kamu yang sekarang penuh rasa ingin tahu dan berkeinginan kuat kadang bikin kita mengelus dada. Tak terhitung berapa banyak papa mama menggelengkan kepala hanya karena yang kamu mau belum tentu bisa dipenuhi semua.

Sungguh sulit jalan sama kamu sekarang nak, harus pandai memilih rute yang tidak ada toko mainannya. Bukan karena tidak mampu maupun tidak mau membelikannya. Hanya saja tidak selalu setiap toko mainan kita lewati kita harus belanja di sana. Bukan berarti juga papa mama tidak sayang karena tidak memberi apa yang kamu minta. Anggaplah ini suatu proses belajar untuk mengendalikan hasrat dan beberapa tata krama.


Mungkin sekarang kamu sulit untuk menerima, seperti juga papa mama yang terkadang kesulitan untuk menyampaikannya. Tapi percayalah nak, semua ini demi bekal masa depan karena kamu hidup tidak sendirian di dunia. Semakin bertambah usia mu, semakin banyak pula pelajaran dan norma yang akan kamu terima. Tak perlu kuatir karena papa mama akan siap sedia menyertai proses belajar ini sama-sama. Yakinlah satu hal bahwa sejak hadirmu di tengah-tengah papa mama, kebahagiaan mu adalah kebahagiaan kami juga.

Tadinya mau ditulis frasa sampe akhir tapi rasanya nggak kuat saya, nggak kuat merangkai dan nggak kuat menahan air mata. Jadi seperti yang tertulis sekilas itu lah ya, bahwa sekarang di usia Leon tiga tahun ini pribadinya sudah jelas dan mantap. Seperti balita pada umurnya, penuh rasa ingin tahu dan bergerak luar biasa aktif. Tapi jelas sekali kalo anaknya berkeinginan kuat, setiap ditanya sesuatu dia mantap jawabnya. Berulang kali pun kita alihkan, dia tetap pada pendiriannya.

Ini good sign atau nggak ya? Atau memang semua balita kaya gini ya…hahaha

Contohnya, “Leon nanti mama anter ya ke rumah oma, karena sus pulang kampung, mama harus kerja”
Lalu dia jawab, “Leon ikut mama kerja aja, nanti Leon nggak nakal deh”

Dan kalo dituruti sebaliknya, gue anter ke rumah oma nya nih dia bisa ngamuk-ngamuk karena mau ikut kerja. Tapi ada juga hari-hari lain dimana dia mau nya di rumah oma aja, jadi bener-bener dia tuh tau maunya apa.

Jadi sekarang untuk mengantisipasi hal begini, gue nggak ajukan pertanyaan atau terkesan mengatur gitu. Ntar juga anaknya yang nanya balik, kok gini ma, kok gitu ma. Semakin gede semakin sulit ya anak kecil itu, lol.

via Giphy.com

Umur tiga tahun ini kata orang kan fase nya THREENAGER. Bertingkah selayaknya anak abege gitu lah, yang emosinya tidak stabil dan sotoy is the key. Kalo masih dua tahunan itu kan gampang dibujuk dan dibohong-bohongin. Nah kalo umur tiga tahun ini, karena dia sudah mengenal dunia sekitarnya dengan baik. Udah tau rumah dia yang mana, papa mama nya siapa, ada siapa aja selain dia dan papa mama. Jalan ke rumah sendiri pun dia udah hafal banget. Jadi kalo abis pergi entah dari Mall atau Lottemart sama opa oma kan mau dianter pulang, begitu liat jalanan arah ke rumah si Leon akan langsung teriak, “Leon nggak mau pulaaang”

Geli ya antara lucu menggemaskan sama aneh bin ajaib gitu. Tapi percaya lah, abis gitu akan panjang dramanya. Dia teriak nggak mau pulang means dia beneran nggak mau. Sehingga kalo beneran dianter ke rumah, turun dari mobil bakalan nangis-nangis kadang disertai amukan. :’)

Segala hal dia mau lakukan sendiri. Oke, sebagai ibu yang baik pastinya gue mau anak gue mandiri ya. Jadi ibu harus sabar ngajarinnya, sabar nungguin sampe bisa. Well said. Setelah umur tiga tahun, gue berasa nggak bisa lagi jadi ibu yang baik lah. Gimana coba anaknya mau cuci tangan sendiri di wastafel tempat makan atau lagi di luar. Yang nggak semua wastafel di luar rumah itu kan ada tangganyaaaaa. Tapi si anak kecil yang berasa bukan anak kecil lagi ini tetep mau cuci tangan sendiri TANPA DIGENDONG.

Kalo gue pencetin sabunnya, dia marah, karena dia pengen pencet sendiri soap dispenser-nya. Kalo gue ambilin tissue untuk mengeringkan tangannya, dia marah, karena dia mau ambil sendiri tissue nya. O M G

via Giphy.com

Sekarang diakalin aja lah cuci tangan pake antis atau tissue basah. Nggak usah sok-sok ngajarin anak mandiri cuci tangan ke wastafel, kecuali emang yang tempatnya kita tahu ya wastafelnya ada tangga untuk anak kecil. Atau kalo yang ke Mall gitu biasanya ada Mall yang ramah anak, jadi ada wastafel pendek nya khusus anak.

Hal ajaib yang terjadi belakangan ini adalah si Leon udah mau duduk sendiri di belakang kalo naik mobil. Dulu itu selalu takut kalo sendirian, jadi harus dipangku sama gue di seater depan. Nah, entah kenapa sejak sekolah sih emang lebih mandiri dan nggak takutan lagi kalo harus sendirian. Supaya nggak bosen ya tetep dibawain mainan mobil-mobilan gitu jadi dia anteng main. Bahkan kemarin pas jalan ke GI buat ikutan acara Book Talk bukunya Kak Grace Melia dan Kak Annisast, dia main sendiri sampe ketiduran.

finally meet them lohhhh @annisast & @grace.melia

Now that he is a preschooler, aktivitas sehari-harinya udah mulai padat. Bangunnya tentu lebih pagi dari biasanya karena sekolah masuknya jam 8 pagi. Pulangnya jam 11 dijemput ke rumah oma, jadi pulang sekolah langsung makan siang lalu main sebentar, tidur siang deh. Kadang bangunnya sore, mandi sore dan main-main sambil nunggu gue jemput sepulang kantor. Sampe rumah makan malem bareng papa mama, lalu main lagi sambil ngobrol-ngobrol. Sekarang gue usahain banget jam 9 malem udah tidur. Karena kasian sih jam 6 atau setengah 7 pagi udah harus bangun siap-siap ke sekolah lagi.



Di usia segini ini emang masa-masa lagi enak-enaknya. PR nya masih di toilet training dan lepas diaper, tapi gapapa lah pelan-pelan aja. 


Lucu banget kalo liat anak ini sekarang bisa ngejawab kalo dibilangin.

Mama: “Leon yang pinter di sekolah ya, kalo nggak nangis nanti sore mama pulang kita jajan eskrim”
Sorenya….
Leon: “Mama, ayo beli eskrim”
Mama: “Nooo…kan tadi Leon nangis dimarahin opa kan”
Leon: “Tapi kan itu di rumah opa, di sekolah nggak nangis”
Well….

Baca: Leon Story

Kadang kangen masa-masa dia bayi dan masih helpless. Belum bisa berargumen dan belum bisa mengutarakan keinginannya secara verbal. Tapi kalo melihat kepintarannya saat ini, perkembangan dan kemajuan yang luar biasa ini. Rasanya sungguh bangga dan terharu bangettttt….

with my little cute debater

Semoga Leon tumbuh jadi anak yang baik dan berbakti ya, punya hati yang besar dan selalu sayang keluarga seperti papa. Bisa menjadi sosok yang pengertian dan bertanggung jawab seperti mama. I love you my son, more than the mornings and the nights, deeper than the oceans and the skies πŸ’•





P.s: Cake birthday tahun ini pake eskrim, beli di Pesca Ice Cream Kelapa Gading. Hiasannya Paw Patrol theme beli di toko mainan, tinggal di jejerin aja sama kue-nya. Anaknya udah request dari kapan tau tuh minta tiup lilin kue paw patrol. Berhubung alergian sama telor jadi kue nya diganti eskrim taun ini. He was so happy though 😊😊

Cheesy in Love❤

Tuesday, 26 June 2018

Beberapa hari lalu ada yang DM ke Instagram nanya ke gue: “ Kenapa kok gue sama suami kelihatannya mesra banget? Apa sih resepnya? “

Nah loh. Ini pertanyaan lumayan bikin muter otak. Karena ya kalo pertanyaan seputar anak, keluarga atau cerita-cerita saat liburan sama anak gitu gampang banget dijawab. Tinggal balik ke dasarnya aja, kalo gue pernah mengalami ya tinggal sharing saat dulu gue ngalamin kaya gimana. Perasaannya saat itu gimana dan ya kalo ada masukan/suggestion ke yang nanya. Atau kalo gue belom pernah ngalamin sendiri, ya gue biasanya kasih referensi aja.

Jadi waktu dapet pertanyaan soal mesra banget sama suami, gue tanya balik orangnya. Hahaha
Bisa menyimpulkan “ mesra “ itu darimana?

Dan ternyata menurut dia (or probably some people too) sering banget lihat postingan gue yang disertai caption unyu dan mesra ke suami. Iya gitu ya? Karena sejujurnya gue sendiri nggak sadar, lol.

Mari gue jelaskan semoga penjelasannya bisa menjawab dan memberi pencerahan. Halah

Baca juga: DEEJHE XTRAORDINARY TALKS #008 - #015

Pertama, gue itu selalu punya script atau hal-hal yang mau gue utarakan dalam kepala. Saking banyaknya yang mau diutarakan jadinya ya mengalir aja gitu kalimatnya. Baru setelah itu cari foto yang tepat buat menggambarkan script gue tersebut. Jadi di gue itu terbalik, biasanya orang kan post foto baru nyari kalimat caption nya apa yang tepat ya. Sementara di gue nggak gitu. Terbayang-bayang dulu kata-kata sesuai dengan suasana hati gue saat itu. Ini gue tulis di draft notes HP dulu biasanya. Baru abis itu gue cari foto, paste dari notes ke caption, lalu upload.

Sounds pretty weird nggak sih? Or this how an introverted brain works? Lol

Dan ini nggak selalu tentang suami aja, kalo lagi feel nya tentang Leon ya sama juga kaya gitu. Kecuali foto-foto produk ya, review-review itu ya harus tau dulu produknya apa. Baru bisa ditulis deskripsi, kegunaan, efek baik dan buruk nya saat gue pake.

Kalo tulisan tentang suami, setelah diguling-guling dan dibacain dari dulu ternyata emang selalu isinya manis-manis sih ya. Ya abis gimana dong ya, masa lagi marah menclak-menclak gue rangkai dalam kalimat untuk caption foto. Nggak gitu juga kannnn, lol.

Maka yang membedakan ya gini loh, kalo lagi bete-bete an, keki atau selisih argumen sama suami ya langsung diutarakan sama orangnya. Dipendem doang mah bikin kutil ntar. Kalo langsung diomongin kan plong dan lega ya. Bete hilang, perdebatan bisa cari solusi maka kita bisa kembali team up/baikan sama suami.

Nah kalo momen-momen bahagia dan gombalan cinta, kadang nggak bisa selalu diutarakan sih. Kesibukan dan rutinitas sehari-hari bikin suka lupa untuk sekedar bilang “ I LOVE YOU “. Giliran terpisah karena berangkat kerja masing-masing, baru berasa rindu.

Momen begini yang lalu gue tulis dulu dah daripada kelupaan. Yang di update ke draft nggak cuma kata-kata manis yang lagi bikin mood happy. Kadang list to do, list groceries, list pemakaian kartu kredit sama list yang mesti dibayar-bayar juga gue tulis!

The point is, every moment you’ve spent together with your kids and husband, feel it. Momen apapun setiap kali pasti ada luapan emosi. Entah itu happy, haru, sedih, guilty, bingung or even angry. Apapun itu, resapi. Pasti selalu ada hal yang ingin kita beri. Entah hanya sebatas tulisan manis untuk dibaca nanti. Atau hadiah kecil mewakili perasaan bisa jadi.

Kedua, selalu ingat bahwa kesibukan kita merawat anak kan sama-sama suami juga. Jangan lantas anak di prioritaskan tapi suami jadi terlantar. Mungkin saat ini anak-anak masih kecil dan butuh bimbingan. They need us 24hours for teach them manners, feed them good food and learn new things together. But as they grow up, they’ll need us less and less.

Nanti akan tiba waktunya anak-anak bertumbuh dan punya kehidupan sendiri. Yang tersisa siapa lagi kalo bukan suami? Maka gue selalu berupaya menyamaratakan prioritas ke suami dan anak. Meski perlakuannya sekarang bisa beda ya karena kan kalo anak mah masih harus dicebokin dan disuapin. Kalo sama suami ya nggak perlu kan yaaa, tinggal sesekali siapin makanan favorit dan ajak pacaran sementara anak titip nanny atau orang tua juga cukup nyenengin hatinya :)

Dulu waktu Leon baru lahir, gue ngalamin baby blues parah banget. Dalam sehari itu gue nangis sama banyaknya kaya si newborn nangis. Boro-boro punya waktu urus suami, urus diri sendiri aja kagak bisa. Suami dengan sabar selalu support dan jaga perasaan gue. Kalo urusan bantu jaga anak mah si Beey paling numero uno deh. Mandiin, nemenin main, nyuapin dan nyebokin dia sigap pokoknya.

As the time heals and my postpartum depression getting better, gue malah terlena sama keasikan merawat bayi. Kaya baru berasa happy banget punya bayi gitu. Karena awal lahiran mah bener-bener mental struggling banget. Nah gara-gara ini gue malah jadi menelantarkan suami. Pulang kerja langsung pegang bayi gantian sama mertua, nggak nyiapin makan malem suami padahal suami pulang kerja malem udah lelah letih lesu. Besok nya juga boro-boro inget suami sarapan atau lunch apa.

Pada akhirnya saat itu sikap gue di komplain lah sama si Beey. Bahwa dia juga ingin diperlakukan sama seperti anak, ingin disayang dan dirawat istrinya dengan kasih sayang. Mungkin si Beey bisa afford makan apa ya tinggal beli, no ribet kan. Tapi bukan itu yang dia cari karena kalo kaya gitu dia mah nggak butuh istri atau pedamping hidup. Wagila sih saat itu gue pengen ngutuk suami banget. Tapi setelah gue renungin dan bicara dari hati ke hati, kita akhirnya menemukan akar masalahnya dimana. Kenapa gue sampe nggak inget urus suami. Things such like that. We figure out.
Makin ke sini gue makin ngeh kenapa saat itu suami komplain sampe segitunya. Karena sebenernya doi peduli akan kelangsungnan rumah tangga kami. Kalo salah satu nggak happy dan menyimpan resah, gimana bisa rumah tangga jalan dengan baik. Mungkin di luar sana ada yang suaminya tipe yang fine-fine aja. Gapapa nggak keurus yang penting istri nggak kecapekan dan anak full service. But again, every family condition is different.

Suami gue tipe yang menjunjung harmonisasi. Dia nggak mau apa-apa sendiri. Family is over everything else. And I agree with him in this case. Padahal keluarganya menganut paham patriarki banget, dimana suami nggak mestinya ngerjain urusan domestik. Tapi si Beey tetap sigap dalam hal apa pun. Kalo pas anak sakit sementara gue ada meeting penting di kantor yang nggak bisa ditinggal, dia siap stand by jaga anak. Atau kalo lagi ditinggal nanny gini, dikasih kerjaan rumah juga dia mau kerjain tanpa diminta.

As long as we are together in this. Karena yang diminta suami sebenernya nggak berlebihan kok. Cuma minta diperhatikan dan disayang sama istri sendiri. Justru gue bakal lebih worried kalo dia nggak ungkapkan from the very first. Probably he may seeking love and attention from anyone else? Idk. But I believe in him, he want the best for the family. He want a change for our own sake.

Don’t forget that sometimes as a part of growing up, we need changes. Don’t you agree?
Makanya balik lagi sama prioritas dan prinsip masing-masing. Ibarat kata kaya kita lagi naik gerobak, rodanya harus berfungsi semua. Kalo ada satu roda yang rusak, mau gimana tuh gerobak berjalan dengan baik?

Satu hal lagi, kadang kita juga suka lupa menyenangkan hati orang lain. Tapi menuntut orang lain selalu jaga perasaan dan berusaha nyenengin hati kita. Pernikahan nggak akan berjalan mulus kalo kita cuma nuntut. Words are no use without actions.

Dengan pribadi gue yang sangat tidak ekspresif ini. Kalo happy, marah atau sedih gue itu nggak bisa nunjukin. Emotionless. Gue cuma bisa ngutarain lewat tulisan. Dari situ juga si Beey bisa membaca wah ternyata gue lagi mixed feelings karena ini toh. Gitu. Ini milestone banget dalam hubungan kami sih, karena dulu gue cenderung mendem. Jadi si Beey juga capek gimana sih mesti nyenengin hati istri kok kayanya salah mulu.

Baca juga: Cotton Candy

Jadi ya banyak-banyak lah sharing dan berkomunikasi sama suami. Kadang sejak punya anak susah banget bisa ngobrol dan quality time. Mau ngobrol serius digangguin anak mulu. Mungkin bisa diakalin dengan atur waktu berduaan aja sama suami, atur waktu sama orang tua atau ipar ada nggak yang bisa dititipin anak sementara. Atau ya bisa juga bikin dalam tulisan sehingga suami bisa baca isi hati kita sebenernya lagi kaya gimana sih.


Here some words for you who may need to tell your loved ones, how much you love them…

Teruntuk kamu sosok yang selalu setia mendengarku bercerita tentang angan dan mimpi….

Mengucap janji sehidup semati denganmu di hadapan Tuhan tak pernah kusesali. Bersedia dalam untung dan malang serta saling mencintai. Sungguh perjalanan panjang hingga kita bisa sampai di sini. Namun setiap kesusahan selalu mudah dijalani bersama kamu yang paling bisa menjaga hati.

Saat ini mungkin waktuku sedikit dan habis untuk membesarkan sang buah hati. Terkadang tanpa sadar kita semakin berjarak dan saling menyakiti. Kesibukan sehari-hari, rasa penat serta letih sungguh menguji kewarasan diri sendiri. Hingga lupa cara untuk saling menyayangi dan berkomunikasi.

Mungkin sering kali emosi membuat kita tak tahu cara untuk apa lagi berjuang kini. Percayalah kasih, tak pernah berubah rasa ini dan jangan pernah sangsi. Entah lelah entah sedih, semua akan sirna tanpa disadari. Tapi mencintai adalah urusan hati yang tak akan bisa kita pungkiri.

Semoga sampe kita tua nanti, sudah peyot dan keriput sana sini. Masih bisa bahagia hanya dengan bergandeng tangan sambil berharap waktu berhenti. Untuk kita mampu saling mengucap terima kasih atas semua hal yang pernah kita lalui. Saling memiliki satu sama lain hingga waktu kita habis kini dan nanti

Open Trip Now Easier - Vizitrip bikin Liburan Jadi Mudah!

Thursday, 7 June 2018


Ini adalah kisah kali pertama saya jatuh cinta pada negeri gajah putih beserta segala keindahan dan pesonanya. Sepenggal cerita akan kenangan yang mungkin terlampau singkat namun memberi makna hingga ke akhir hayat.

Pertama kali saya menjejakkan kaki di Bangkok, Thailand adalah pada tahun 2014 bersama mantan pacar yang saat itu sudah sah menjadi suami. Sejak sah mengucap janji sehidup semati di Altar pada Februari 2014, kami berencana bulan madu trip ke Singapura, Malaysia dan Thailand. Namun karena keterbatasan waktu jadinya cuma kesampean Valentine Dinner di Clarke Quay, Singapura serta berlanujut menghabiskan malam di kasino Genting, Malaysia.

Terpaksa ke Thailand menjadi perjalanan tertunda karena kepentok jatah cuti kantor. Ditambah lagi saat itu saya masih sibuk sama skripsi, udah masuk revisi pada bagian paling akhir dan sidang skripsi sudah harus dipersiapkan dengan matang.

πŸ“· Via Pexels.com

Berkat motivasi dan dukungan suami saya akhirnya berhasil menyelesaikan sidang skripsi dengan nilai yang memuaskan. Bahagia banget kala itu masih pengantin baru, meski sambil jungkir balik harus kerja sambil kuliah tapi ternyata berhasil juga lulus kuliah tepat waktu. Dan berhasil membuktikan pada orang tua bahwa keputusan saya menikah muda meski belum tamat kuliah bukan menjadi halangan memperoleh gelar sarjana :”)

Via Giphy.com

Beruntung punya suami yang suportif dan selalu menyemangati untuk menyelesaikan semua yang saya perjuangkan. Sidang skripsi pun suami turut andil dengan menemani saya selama berlatih hingga berada di ruang sidang untuk menyaksikan perjuangan terakhir sang istri di bangku kuliah. Nggak lupa juga akan hadiah untuk merayakan kelulusan saya saat itu, tiket liburan bulan madu yang sempat tertunda: Bangkok, Thailand.

Liburan singkat itu selain untuk merayakan kelulusan saya juga merayakan hari jadi pacaran. Dipertemukan di tanggal sepuluh pada bulan ke-sepuluh maka tepat 10 Oktober 2014 adalah tahun ke-delapan kami bersama-sama. Di tahun yang sama juga, Puji Tuhan, saya dan suami disakralkan dalam jenjang pernikahan.



Kenapa Bangkok sangat berkesan buat saya pribadi? Karena sepulangnya dari sana, dua minggu kemudian saya dan suami diberi kejutan yang melebihi ekspektasi. Sama sekali nggak pernah terpikir bahwa keluarga kecil kami saat itu akan bertambah satu dengan kehadiran sang janin dalam kandungan saya πŸ‘ΆπŸ˜



Secara waktu itu kita nikah muda ya kan, saya pun baru wisuda dan lagi hangat-hangatnya merintis karir dengan gaji fresh graduate. Suami juga saat itu masih staff MT (Management Trainee) sebuah bank swasta, mau gimana pula kita mikirin punya anak. Hidup berdua sih nggak pas-pasan yaaa masih bisa lah punya tabungan 30-50% dari total gaji berdua. 

Tapi secara mentalitas, kadang masih suka kaya bocah jadi kepikiran gimana ya kalo harus ngasuh bocah juga? Wahhh…. Such a roller coaster thoughts lah tentunya.


Fast forward to this day, dengan kehadiran bocah laki-laki kesayangan kita berdua yang sebentar lagi mau tiga tahun. Setiap menatap matanya itu saya dan suami selalu terbayang memori di Thailand: this boy is surely made in Thai. πŸ˜‚πŸ˜‚

Itu udah berapa tahun lalu terakhir kali kami menginjakkan kaki di negeri gajah putih tersebut. Dari belum ada anak sampai sekarang belum kesampaian mau ajak Leon liburan ke sana. Selalu menjadi wishlist nomor satu untuk mengunjungi Thailand lagi. Kangen banget sama hiruk pikuk kota Bangkok, meski sama-sama kota besar seperti tempat tinggal saya, Jakarta. Tapi kota Bangkok jauh lebih menyenangkan dan keteraturan kehidupan di sana bener-bener bikin nagih.


πŸ“· Via Pexels.com

Kemana-mana kita dipermudah dengan akses BTS Skytrain (Bangkok Mass Transit System) dan MRT. Walaupun kadang jarak antar station itu lumayan bikin gempor ya karena kalo jalan kaki itu bisa 1-2km tapi kalo pake taksi atau tuktuk (sejenis bajaj) kok ya kedeketan. Ini nggak semua station berjauhan kaya gini sih, hanya di beberapa tempat yang emang jauh dari pusat kotanya aja. Kalo di daerah pusat perbelanjaan seperti MBK Mall atau Chatucak Weekend Market atau area perkantoran seperti Shukumvit Road gini mah udah pasti mudah aksesnya ya.

Kebetulan dulu kita dapat hotelnya daerah Soi Ratchataphan (Moeleng), informasinya sih deket Pratunam tapi ternyata dari station BTS Ratchathewi (station terdekat searah hotel) ini masih harus jalan kaki kira-kira 20 menit. Biar pun capek dan lepek tapi namanya juga dua-duaan sama suami jadi sepanjang jalan kita sambil ngobrol nggak berasa juga jauhnya πŸ’‘

Apalagi sepanjang jalan banyak jajanan kaki lima yang enak-enak. Mulai dari aneka sate dan BBQ, aneka jus (paling kangen sama jus pomegranate yang berseliweran pinggir jalan) juga jajanan khas Thailand kaya padthai, ketan mangga atau bahasa kerennya: mango sticky rice dan aneka jajanan lainnya. Biarpun pinggir jalan tapi nggak bikin hasrat kuliner kita ciut kok justru makin jorok makin doyan, lol. Secara biasanya di Jakarta jajanan pinggir jalan mentok ya tukang gorengan atau siomay. Cuma di Bangkok kita bisa ketemu sate halal dan non halal di pinggir jalan πŸ˜‚πŸ˜‚

Nah kalo di Bangkok sudah dipermudah dengan aneka fasilitas serta kemudahan akses transportasi maupun informasinya, tinggal kita cari deh mau traveling bawa anak kali ini gimana ya supaya tetap bisa enjoy dan fun kaya dulu. Pas banget nih di Vizitrip.com yang bikin liburan jadi mudah karena ada paket tour open trip 4D3N Bangkok Pattaya ALL IN.




Apa itu Vizitrip?

Coba buka dulu website nya ya: www.vizitrip.com

Vizitrip ini merupakan market place yang menyediakan berbagai jenis paket tour dan travel ke berbagai destinasi lokal maupun internasional. Dengan bekerja sama dengan lebih dari 500 tour partner berpengalaman memberikan kita lebih banyak pilihan.

Kita bisa pilih paket tour yang sesuai budget liburan kita contohnya di paket 4D3N Bangkok Pattaya Special Frost Magical Ice Tour ini mulai dari satu jutaan hingga tiga jutaan Rupiah.



Kamu bisa pilih paket mana yang sesuai dengan budget, ada yang sudah termasuk tiket pesawat (All In) ada juga yang belum include tiket. Kalo saya pribadi sih lebih memilih yang ALL IN pastinya ya biar nggak repot. Soalnya kan bawa balita nih ya liburannya, mikirin packing aja kayanya udah ribet. Maunya kan liburan jadi mudah makanya saya percayakan semua pada Vizitrip aja. 

Pas seperti namanya kan: VIZITRIP – Make Your Trip Easy!

Pilihan paket di Vizitrip ini terdiri atas tiga jenis: regular trip, open trip dan group trip.
Kalo buat saya dan keluarga sih lebih tepat open trip mungkin ya, tapi buat kalian yang lagi mau traveling bareng temen seangkatan sebelum farewell kelulusan atau mungkin mau sekalian jalan-jalan tutup tahun bareng departemen di kantor silakan cek pilihan group tour-nya ya.



Buat yang jones alias jomblo ngenes, bisa juga Trip Bareng Vizitrip dengan memanfaatkan paket open trip yang ada di Vizitrip.com siapa tau kan bisa ketemu pujaan hati gara-gara cinlok (cinta lokasi). Lumayan kan sekali mendayung, dua tiga pulau tergapai. Sekali ikut paket liburan eh pulang bawa pujaan hati...



Paket open trip luar negeri selain Bangkok itu ada juga ke Malaysia, Singapore, Hongkong, Maldives, Jepang dan Korea serta Negara-negara populer lainnya. Kalo yang mau menjelajah pesona ibu pertiwi kita Indonesia, ada juga loh paket open trip lokal dengan destinasi eksotis seperti Pulau Pahawang, Bromo, Kawah Ijen, Karimunjawa dan masih banyak lainnya




Buat saya sih Vizitrip ini inovatif dan kekinian banget, dimana lagi coba bisa pesan paket tour untuk liburan dengan hanya bermodal internet. Nggak perlu desak-desakan ke booth bazaar tour dan travel di mall, terus juga buat orang kantoran kaya saya gini kan susah banget ngatur waktunya kalo harus mampir ke kantor penyedia jasa tour gitu.



Buat yang takut gaptek jangan khawatir, karena proses booking lewat website Vizitrip.com ini terbilang sangat mudah. Semua ada dropdown-nya sehingga tinggal klik aja, pilih destinasi Negara (local atau internasional), pilih tipe trip open/group trip, tanggal rencana perjalanan serta jumlah orang yang akan ikut dalam trip. Nanti akan kejumlah biaya yang harus dibayar dan tinggal pilih deh metode pembayarannya. Bisa melalu transfer bank BCA, virtual account maupun credit card.




Gampang banget ya kan? Udah pada mahir kan belanja online nah ini sama aja kok, bedanya ya kalo beli paket liburan nanti nggak dapet nomor resi ekpedisi ya, dapetnya nomer kode booking hehehehe…..πŸ‘Œ

Nah, jadi tunggu apa lagi yuk kita hunting paket liburan di Vizitrip. Buat yang mau jalan ke Bangkok juga di bulan Oktober ini mana tau ketemu saya, Beey dan Leon! Xoxo

#LiburanJadiMudah




Suka Duka Toilet Training

Monday, 4 June 2018



Which is, too many difficulties and hardships for now~ πŸ˜…

Kayanya ini bisa jadi series deh, bakal ada kelanjutannya tapi doakan ya kelanjutannya kelak adalah cerita tentang keberhasilan Toilet Training or Tips Seputar Berhasil Toilet Training.

Karena di blogpost kali ini isinya mostly adalah cerita mengeluhnya aja. Jadi kalo kalian nyari tips, silakan tutup lagi aja gapapa beneran, hahaha! Karena aku pun buntu dan kehilangan motivasi, sementara segala cara udah dilakukan banget deh. Daripada perjalanan panjangnya terhapus oleh waktu, lebih baik sekalian aja ditulis ya kan.

But if you want a comfort, because believe me I do know how difficult it is. Toilet training is pretty sucks for me and my toddler. Nah jadi kalo kalian merasa senasib, sama-sama kesulitan dan sepertinya hopeless banget sama perihal toilet training ini, ayo kita berpelukan :’)

Perjalanan panjang toilet training Leon ini udah menuju setahun, karena gue bener-bener baru start toilet training itu pas Leon ulang tahun ke-2, which is June 2017.


Waktu itu nggak terlalu maksa harus berhasil saat itu juga karena berbarengan menyapih/weaning. Proses toilet training cuma gue jalani pas weekend aja, itu bener-bener lepas pospak (popok sekali pakai) dari pagi bangun bobo sampe mau bobo siang. Jadi pas bobo siang masih pake pospak, lalu bangun bobo siang biasanya copot lagi sampe malem. Baru pake pospak lagi itu saat mau bobo malem. Gue coba breakdown detail kisah toilet training based on umur Leon dari pertama kali ini ya.


24 MONTHS OLD – TOILET TRAINING FIRST PROGRESS

Challenge di sini, saat pertama kali toilet training adalah: NGOMPOL sampe banjir ke lantai. Leon masih nggak ngerti konsep nahan pipis ya, udah gitu frekuensi pipisnya masih sering banget. Jadi di umur 24 bulan (dua tahun), Leon pipisnya masih sering banget. Jadi dalam kurun waktu satu jam, dia bisa ngompol sampe dua-tiga kali. Ini level ngompolnya nggak usah ditanya ya, sekali ngompol udah lah pasti harus keluarin alat pel.

Challenge lainnya adalah pada saat buang air besar alias pupup. Leon nggak bisa banget pupup di kloset, kalo diajarin nongkrong di kloset pake dudukan kloset yang bergambar itu bisa nggak jadi keluar pupup-nya. Padahal sebelumnya udah mules gitu ya, tapi pas didudukin eh ketawa-ketawa terus ilang rasa pengen pupup-nya dia.

Akhirnya nggak gue paksa deh pupup di kloset….which is I REGRET IT UNTIL NOW T___T

Please deh anak kecil itu harus dari cilik banget diajarin pupup di kloset, huhuhu….

Sampe sekarang jadi kebiasaan deh si Leon pupup cuma bisa di pospak. Kalo nggak gitu nggak jadi pupup. Masih gue coba training sampe sekarang, wismilaaakkk!

Duka di fase ini adalah: CUCIAN JADI NUMPUK. Gila deh sehari bisa abis selusin set celana dalam dan celana pendek/celana rumah. Ditambah lagi repotnya harus bolak balik ngepel setiap kali ngompol. Pengen bikin nangis dan nyerah aja keluarin pospak. 

Jangan tanya kenapa nggak diajarin pipis di toilet yaa! Ini udah setiap 15 menit sekali dibawa ke toilet, diajak pipis sambil sss ssss sss gitu supaya dia kepancing pipisnya. Tapi cara ini nggak selalu berhasil, jadi kadang udah nungguin sampe 10 menit nggak pipis-pipis. Pakein celana dan kembali aktifitas dong ya kan, eh nggak lama dia ngompol dong :”)

Malah kadang udah berhasil pipis di toilet dan pake celana, tapi selang 5 menit kemudian dia tetep ngompol juga. Padahal minumnya normal loh, entah mengapa pipisnya sering banget nih anak hahaha

Untuk awal permulaannya gue cuma lakukan ini di weekend aja. Alasannya karena masih tahap permulaan dan cuma pas weekend ada gue yang bisa bimbing Leon. Kalo hari kerja kan gue pulang aja udah malem, sepanjang hari sama nanny gue agak sangsi dia bakal telaten. Jadi ya nggak maksimal gapapa lah yang penting komit dan tegas aja.

Ini berlangsung lamaaaa banget sampe umur 30 bulanan deh kayanya. Tapi frekuensi ngompol-nya mulai berkurang jauh banget dan cukup satu jam sekali dibawa ke kamar mandi. Walaupun kadang masih ngompol juga kalo lagi asik main tapi sehari berkurang jauh banget lah.


31 MONTHS OLD – TOILET TRAINING SECOND PROGRESS

Di umur segini gue udah mulai strict, tadinya cuma weekend doang nah di sini udah mulai SETIAP HARI. Jatah pospak gue stock mepet-mepet supaya si nanny lebih telaten ngajarin toilet training ini. Bahkan sampe gue bilangin kalo sukses toilet training-nya jatah pospak sebulan buat nambahin gaji dia!

Challenge-nya adalah gue kan nggak bisa kontrol tuh kalo di luar hari weekend ya, sementara satu hari jatahnya cuma dua pospak kan seharusnya (cuma saat bobo siang dan bobo malem). Kenyataannya masih sering jebol karena entah si nanny males ngajak Leon pipis se-jam sekali ke kamar mandi atau kadang alesannya Leon pupup di pospak baru. Omg

Padahal kalo Sabtu Minggu atau hari libur yang gue full di rumah itu Leon udah nggak pernah ngompol loh. Walaupun belum bisa bilang mau pipis juga sih. Jadi tetep ya se-jam sekali diajak pipis, tapi dalam kurun waktu satu jam itu dia nggak ngompol kok.


Ini segala cara udah gue lakukan, dari beliin celana dalam lucu bergambar kartun-kartun favorit Leon sampe gue beliin Baby Safe Boys Urinal Toilet Training. Itu si kodok malah ditolak mentah-mentah loh sama Leon. Dia geli kalo pipis di kodoknya, lol πŸ˜‚πŸ˜‚

Nah, karena masih sering maju mundur progress-nya karena beda tangan pengasuhan beda juga standar kedisiplinannya T_T

Jadinya gue masih maju mundur lepas pospak saat tidur dan saat bepergian. Dan sedihnya ini berlangsung sampe sekarang usianya 35 bulan (sebentar lagi udah mau 36 bulan bahkan)
Dan ternyata kalo dirunut waktunya dari awal mulai toilet training ini kok nggak banyak sih ya progress-nyaaaa?! Sedih banget ya ampun…..😒

Berhubung sebentar lagi mau ulang tahun ketiga dan berbarengan libur lebaran nih, kan pas banget juga nggak ada nanny. Targetnya adalah gue bisa full training dia lepas pospak sama sekali. Mau mulai dari ngajarin pupup nya harus di kloset dan kalo tidur gue coba lepas pospak juga. 

Semoga ada kabar baik ya nanti, soalnya sering baca-baca kisah toilet training orang lain juga banyak yang susah.

Kadang harapan terakhir ya nunggu sampe anaknya gede sekalian deh mau nggak mau. Kalo makin gede apalagi mulai berbaur di sekolahan katanya ada faktor rasa malu yang mendorong si anak untuk stop pakai pospak. Iya apa nggak sih ya? Hahaha

Semoga deh, semoga… See you on my next post!😘😘



Hotel Grand Tjokro - Kid Friendly Hotel in Bandung

Wednesday, 30 May 2018



Perjalanan singkat duet gue dan Leon di awal bulan Mei 2018 lalu emang udah direncanakan banget mau staycation di kid friendly hotel. Berawal dari hunting hotel untuk short trip kita dan dapat banyak informasi soal Grand Tjokro – Cihampelas, Bandung. Ternyata temen sekantor langganan nginep di sini kalo bawa anak liburan ke Bandung.


Pas follow socmed nya dan baca-baca review hotelnya langsung excited banget. Ini mah Leon pasti betah deh main di hotel jadi nggak usah pusing mikirin itinerary ngajak main ke playground di mall atau tempat wisata. Secara perginya berduaan doang nggak bawa nanny dan nggak ditemenin suami yang kebetulan dinas keluar kota. Sementara tujuan kita kan mau nemenin oma Leon yang mau operasi mata.

Supaya anaknya nggak bosen main di rumah sakit jadi gue berpikir kid-friendy hotel is the great solution. Gue booking kamarnya lewat OTA Tiket.com supaya nggak ribet saat hari H check-in.

Ternyata pas tiba di Lobby, ada playgoround untuk anak-anak dong. Ini bener-bener membantu loh karena kan kadang proses check in itu lama ya, belum kalo pas ngantri. Sementara gue bawa toddler yang gampang banget bosennya. Dengan keberadaan playground di lobby ini bisa bikin toddler anteng main sementara gue bisa urus check in hotel dengan lebih santai dan nggak buru-buru.

Playground at Lobby Hotel - Main Tower


Untuk kamarnya sendiri gue ambil yang Superior Twin with Breakfast. Gue selalu booking hotel dengan sarapan ya karena kalo bawa anak lebih ringkas kalo sarapan di hotel. Sehingga bisa punya waktu lebih banyak sampe waktu check out. Jadi abis sarapan itu kita langsung main-main di hotel deh, berenang atau sekedar nongkrong dan main di resto hotel.

Di Grand Tjokro ini ada dua tower, Main Tower dan North Tower. Untuk lobby adanya di Main Tower. Sementara kita dapat kamar di North Tower. Nah menurut informasi resepsionis, ada dua playground juga di Hotel Grand Tjokro. Playground di Main Tower lebih ke lounge sih jadi lebih tepat untuk kumpul dengan anak yang usianya remaja. Sementara playground di North Tower lebih ke anak-anak disertai swimming pool, mini zoo dan arena playround di lantai 10.

Playground at the rooftop of North Tower

Ini perosotannya agak curam ya,
 mohon selalu dalam pengawasan saat anak-anaknya main di playground




Swimming pool at the rooftop

Di bawah playground itu ada tempat main pasir-pasiran juga, bagus buat yang mau melatih anaknya Montessori. Waktu ke sini Leon nggak mau main di pasir-pasiran makanya nggak ke-foto. Ada mini zoo di bagian atas swimming pool-nya. Banyak banget jenis flora fauna yang ada di mini zoo Grand Tjokro.



My Angel Baby 😍


Koleksi binatangnya mulai dari kura-kura, ayam, angsa, domba, burung, ikan, iguana sampe hamster ada loh. Leon baru sekali ini ngeliat yang namanya hamster. Main di roda yang berputar gitu, dia cukup amazed dan nanya mulu, " Kok tikusnya bisa muter-muter ma? "
Lol πŸ˜‚πŸ˜‚





Setiap kandang binatang ada penjelasannya

Nah untuk koleksi flora nya memang nggak banyak tapi cukup entertaining sih. Anak kecil kan seneng banget sama segala hal baru. Di sini Leon paling tertarik sama pohon cabai! Hahaha
Dia sampe nanya terus-terusan: "Maaaa kok cabe ada di pohon sih?" πŸ˜„
Pohon cabai nya nggak sempet ke foto, huhuhuhu




Ada gazebo nya di rooftop nya πŸ’•

Di rooftop ini banyak banget spot foto yang ciamik dan pastinya cocok lah buat mempercantik feed di Instagram! Hahaha! Meski gue staycation di sini cuma berduaan sama Leon, nggak bawa tongsis dan tripod pun. Ya udah lah segala perabot yang bisa dipake buat ganjel dan selfie pun digunakan.






Sepede ontel ada warna kuning dan pink, so prettyπŸ’›πŸ’•


Bantal warna warni nya juga nagih banget buat foto2 terus hahaha

Untuk breakfast di Street CafΓ© Hotel Grand Tjokro silakan di browsing sendiri ya. Menu nya super lengkap dan nikmat pastinya. Untung gue bawa Tupperware, lol. Jadi bisa nyimpen sekalian buat makan siang Leon πŸ˜‹πŸ˜‹

Restorannya nggak sempet foto-foto ya karena rempong banget si toddler udah kelaperan dan nggak sabar banget mau main di rooftop. Tapi kualitas makanan dan kelengkapannya tak diragukan lah. Bener-bener komplittttt! Coba cek aja di IG mereka : @grandtjokrobandung

So far sih, Grand Tjokro is super recommended deh buat yang nyari kid-friendly hotel di area Bandung dengan lokasi yang strategis dekat dengan pusat perbelanjaan (Cihampelas). Pastinya gue dan keluarga bakal sering-sering nginep di siniπŸ˜‰


Auto Post Signature

Auto Post  Signature
Back to Top