Find Me on Social Media

Image Slider

Mengenal Alat Kontrasepsi IUD (KB Spiral)

Friday, 16 November 2018



πŸ’‰Apa sih IUD itu?

Bagi sebagian orang yang mungkin belum familiar, IUD (Intra Uterin Device) atau dikenal juga dengan istilah AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim), merupakan alat kontrasepsi non hormonal berbentuk seperti huruf T dengan panjang kurang lebih 3 cm. Dikenal juga dengan istilah KB Spiral.

IUD ini terkenal paling ampuh dan efektif mencegah kehamilan hingga 99%. KB Spiral lebih disukai karena tidak mengganggu hormonal, dibandingkan KB hormonal seperti suntikan atau pil yang banyak dikeluhkan memberi efek kurang disukai, seperti muka yang berjerawat, meningkatnya nafsu makan juga membuat periode menstruasi menjadi tidak menentu atau bahkan tidak haid sama sekali.

Sedangkan IUD ini tidak mengganggu hormon sama sekali, meski efek samping KB spiral mungkin bisa berbeda antar satu wanita dengan wanita lain.




πŸ’‰ Gimana ya pasangnya? Sakit nggak ya?

Pemasangan IUD yang paling tepat dan dianjurkan adalah pasca persalinan atau pada masa-masa menjelang selesai periode menstruasi. Karena pada saat menjelang selesai haid, kondisi mulut rahim terbuka dan cenderung lunak. Sehingga dapat meredakan rasa nyeri dan ngilu saat pemasangan IUD.

Berdasarkan pengalaman pribadi, pemasangan IUD ini lumayan nyeri dan ngilu. Meski tidak sebanding dengan rasa sakit saat melahirkan, tetapi tetap wajib menyiapkan mental dan harus ada yang menemani saat pasang IUD. Sebabnya, sesaat setelah pasang IUD akan sedikit nyeri disertai pendarahan ringan. Bahaya kan kalo kita lemes di jalan lalu pingsan. Baiknya harus ditemani suami atau kerabat, yang penting jangan sendirian ya....😊




πŸ’‰ Katanya IUD ini bikin nggak nyaman ya saat berhubungan dengan suami?

Sebelum pasang IUD, saya sempat berkonsultasi dengan dokter kandungan dan minta dijelaskan lebih rinci mengenai cara kerja serta efek samping yang mungkin terjadi. Ngeri banget kalo baca-baca artikel mengenai IUD ini, kebanyakan orang bilang sakit dan bikin menstruasi jadi banyak serta siklus menjadi lebih panjang. Belum lagi keluh kesah para suami yang merasakan tidak nyaman saat berhubungan. Nah, ini harus diklarifikasi dulu sebelumnya supaya lebih mantap untuk pasang IUD.



Secara umum, IUD ini ada dua tipe:

πŸ’˜ IUD Tembaga (Copper)
Tipe IUD yang ini lebih banyak digunakan. Ada beberapa merk dari tipe IUD Tembaga yaitu: CU T380A (Copper T)  dan Nova T.
Untuk perbedaannya hanya bentuk kawat tembaganya aja. Sebagai informasi tambahan, untuk kisaran harga IUD Tembaga ini adalah Rp 200.000 – Rp 300.000, CMIIW ya...

πŸ’˜ IUD Hormonal
Merupakan tipe IUD yang mengandung hormone progestin dan levonorgestrel. Secara harga, IUD tipe ini masih lebih mahal dibanding IUD Copper. Untuk IUD Hormonal ini dapat menyebabkan efek samping yang hampir sama seperti efek samping pil KB maupun suntikan yaitu: nyeri payudara, muka jerawatan, perubahan pola makan dan keluhan sakit kepala.



Perlu diingat kembali bahwa efek-efek samping tersebut bisa berbeda antar satu wanita dengan lainnya. Sehingga efek samping IUD ini tidak semua dialami wanita, selama tubuh dapat beradaptasi dengan baik maka efek sampingnya dapat berkurang atau justru hilang sama sekali.

Saya sendiri sempet mendengar cerita beberapa kerabat yang di complain suami karena rasanya seperti ada yang “mengganjal” saat berhubungan intim. Nah, ini kemungkinan besar diakibatkan benang pada IUD yang disisakan untuk mempermudah proses pencabutan dan pengecekan posisi IUD pada rahim. Bisa minta request aja sama Spog untuk tidak menyisakan benangnya terlalu panjang, sehinggan dapat menghindari kemungkinan ”mengganjal” tersebut.

πŸ’‰ IUD ini cara kerjanya seperti apa sih? Apa saja efek sampingnya?

Untuk gambaran kasar cara kerja IUD adalah sebagai berikut:

πŸ’˜ Tembaga yang terdapat pada IUD melepaskan zat yang mampu mempersulit sperma bergerak dengan baik

πŸ’˜ Menghambat pergerakan sperma dan ovum serta mencegah terjadinya pembuahan (fertilisasi)



Mengingat banyak sekali efek samping KB Spiral yang mungkin dapat dirasakan, saya hanya share beberapa keluhan yang dirasakan setelah menggunakan IUD Nova T selama dua tahun terakhir ya, yaitu :

πŸ‘‰ Pasca pemasangan IUD, perut akan terasa kram seperti kram perut saat haid. Hal ini berlangsung kurang lebih dua hari, badan juga terasa lemas karena nyeri yang disebabkan oleh rahim yang meradang. Terdapat pendarahan ringan namun kuantitasnya hanya seperti haid biasa, berlangsung paling lama lima hari.

πŸ‘‰ Menstruasi pertama setelah menggunakan IUD akan sangat banyak, dua kali lipat daripada menstruasi biasanya. Serta nyeri haid (dismenore) yang dirasakan pun bisa melebihi biasanya. Bisa diredakan dengan kompres hangat dan banyak istirahat serta jangan lupa konsumsi air putih yang banyak.

πŸ‘‰ Siklus haid jadi lebih panjang, biasanya siklus haid saya adalah 5 – 7 hari. Namun, sejak menggunakan IUD, siklus haid menjadi 7 – 10 hari. Diawali dan diakhiri dengan bercak kecokelatan atau flek (spotting).

πŸ‘‰ Menyebabkan keputihan (fluor albus), ini jarang terjadi bagi sebagian orang. Tapi saya mengalami efek samping ini, meski pada saat kontrol ternyata kondisi keputihan tergolong normal. Keputihan yang mungkin muncul akibat penggunaan alat kontrasepsi adalah cairan putih atau bening, tidak berbau serta tidak menimbulkan keluhan seperti nyeri pada organ intim maupun rasa gatal.


Beberapa efek samping KB Spiral tersebut membaik seiring berjalannya waktu. Kira-kira 6 – 7 bulan pasca pemasangan IUD, nyeri haid dan keputihan pun sudah jauh berkurang. Sehingga balik lagi ya, tergantung bagaimana kondisi tubuh masing-masing.

Untuk keluhan rasa tidak nyaman yang mungkin dirasakan saat berhubungan intim dengan suami, untungnya nggak ada keluhan sih. Hehehe… Yang penting rutin untuk kontrol dan melakukan konsultasi sama Spog ya, karena penting untuk cek posisi dan kondisi IUD dalam rahim kalo sampai bergeser bisa jebol juga loh…πŸ˜‹πŸ˜‹




Penting untuk mengenal alat kontrasepsi IUD (KB Spiral) karena berdasarkan pengalaman, saya sempat takut dan ragu. Banyak browsing dan bertanya di forum serta konseling dengan Spog juga penting sehingga kita menjadi lebih aware dan bisa menyiapkan mental jauh-jauh hari. Pernah punya pengalaman juga nggak buibuk terkait IUD? Share yuk di kolom komentar yaa…πŸ‘‡

Sumber:



Traveling with Kids – Mengunjungi Keraton Kasepuhan Cirebon

Wednesday, 7 November 2018



Singkat namun penuh kesan, itu lah rangkuman perjalanan keluarga kecil kami mengunjungi Kota Udang, Cirebon. Singkat, karena hanya tiga hari di waktu weekend kami untuk refreshing dari kepenatan akan aktivitas sehari-hari di ibu kota. Penuh kesan, karena ini lah kali pertama bagi putera semata wayang kami mengunjungi kota kecil yang membutuhkan waktu cukup lama (kurang lebih 6 jam) dalam perjalanan dari Jakarta.


Semakin seru dan bermakna karena ternyata si balita 3.5 tahun ini nggak rewel selama di jalan. Sudah bisa mengobrol dan menikmati kebersamaan. 258 kilometer jauhnya seakan tidak terasa sama sekali karena kami sibuk bercengkerama dan saling mengutarakan ingin makan apa nanti di Cirebon, main kemana dan rencana-rencana lainnya.



Tempat wisata yang menjadi destinasi utama kami saat di Cirebon tak lain adalah Keraton Kasepuhan, letaknya di Jalan Kasepuhan No. 43, Lemahwungkuk. Tidak seperti kebanyakan ibu-ibu yang parno dan takut membawa anak kecil ke bangunan bersejarah, saya dan suami justru ingin memperkenalkan bangunan peninggalan Kesultanan Cirebon ini ke Leon.


Konon katanya bangunan peninggalan begini “ banyak isinya “ sementara anak kecil sensitif sama makhluk tak kasat mata. Bagi saya, semua kembali ke hati dan iman kita sebagai manusia. Prinsipnya asal tidak mengganggu dan sopan, tentu tidak akan terjadi apa-apa. Saya sounding juga anaknya agar well behaved dan tidak berteriak maupun lari-larian. Jelaskan dengan baik mengapa kita harus pelan-pelan selama di sana, selain agar tidak mengganggu “ mereka “ juga tidak mengganggu pengunjung lain yang ingin menikmati keindahan Keraton.



Untuk masuk Keraton Kasepuhan akan dikenakan biaya masuk sebesar Rp 15.000 per orang. Masih cukup murah kok karena bangunannya sangat terawat dan area Keraton ini sangat luas. Sehingga kita bisa puas menikmati keindahan pusakanya serta bisa foto-foto di semua area. Untuk biaya tour guide lokal tidak dipatok harganya, jadi kerelaan masing-masing aja. Tour guide ini akan menceritakan dari A sampai Z, cerita seputar bilik-bilik bangunan dan sejarah Keraton Kasepuhan.

Dan jangan lupa, demi kepentingan feed social media yang kece kita bisa memanfaatkan jasa si tour guide untuk fotoin kita 😁😁



Keraton Kasepuhan ini dulunya bernama Keraton Pakungwati, berasal dari nama Ratu Dewi Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana. Namanya diabadikan oleh suaminya, Sunan Gunung Jati menjadi nama Keraton. Berdasarkan silsilah keturunan yang ada di Keraton Kasepuhan, Sunan Gunung Jati merupakan keturunan Arab. Sehingga didirikan Kasultanan yang merupakan Kerajaan Islam.




Di komplek Keraton Kasepuhan terdapat bangunan utama, yang sayangnya sudah tidak bisa dimasuki oleh pengunjung. Jadi kita cuma bisa lihat dari jendela luarnya saja. Selain itu, juga terdapat Museum Pusaka. Untuk masuk Museum Pusaka ini kita bayar lagi Rp 25.000 per orang. Kami nggak masuk ke dalamnya karena takut Leon nggak bisa tenang dan malah nyenggol barang pusaka, waduh bahaya….



Selidik punya selidik ke penjaga Museum, katanya di dalamnya ada kereta kencana yang dinamai Singa Barong. Kereta kencana ini merupakan perpaduan tiga unsur kebudayaan dan agama yang berbeda, yakni India, Tiongkok dan Indonesia. Singa Barong adalah hasil karya Panembahan Losari pada tahun 1529.



Mempelajari sejarah kaya gini bagi saya sangat menarik. Jadi nggak hanya belajar lewat buku pelajaran semasa sekolah saja. Bisa melihat langsung dan menikmati keindahan barang-barang pusaka adalah suatu hal yang istimewa. Ya nggak sih?



Makanya seneng banget bisa ajak Leon main ke Keraton, sehingga anak ini bisa mengenal bahwa rumah itu bukan hanya rumah tinggal seperti yang kami huni sehari-hari. Ada juga rumah Raja yang berasal dari sisa-sisa peradaban. Bukan rumah Raja ala istana-istana yang sering dia lihat di film Disney gitu. In facts, beda banget kan aslinya sama rumah Raja pada masa Kerajaan ratusan tahun silam di Indonesia.



Buat saya pribadi, wisata Indonesia kini sangat menarik karena yang dulunya belum terjamah wisatawan sekarang bisa kita nikmati. Seperti liburan singkat kami ke Cirebon, berkunjung ke Keraton Kasepuhan atau daerah bersejarah lainnya memberikan banyak sekali manfaat, seperti:
  • Memperoleh pengetahuan lebih banyak seputar sejarah dan keanekaragaman pusaka serta peninggalan dari peradaban sebelumnya
  • Memperkenalkan pada anak konsep bangunan bersejarah dan melihat secara langsung, tidak hanya lewat visual/gambar
  • Memperkenalkan daerah wisata Indonesia yang selama ini belum terjamah wisatawan
  • Menambah pengalaman dan keseruan baru serta sebagai sarana stress reliever setelah penat dengan kegiatan dan kesibukan sehari-hari
  • Manambah koleksi foto liburan di feed social media dan blog πŸ˜‚









Tentang Pengasuh Anak : Mengatasi si Kecil yang Terlalu Dekat sama Nanny

Tuesday, 6 November 2018



Bagi ibu-ibu yang menggunakan helper seperti babysitter atau ART momong untuk membantu mengurus anak, pasti punya ketakutan si anak bakal terlalu dekat dan sayang sama pengasuhnya. Ya apa nggak hayoo? Bagi yang belum tahu bedanya, dulu pernah gue jembrengin ya perbedaan keduanya.


Takut kalau-kalau si anak akan lebih sayang sama pengasuhnya daripada sama kita ibunya, itu wajar banget. Kadang bikin kepikiran juga, gimana nanti kalo pengasuhnya harus berhenti kerja dan pulang kampung. Bisa move on nggak ya anaknya? Karena ada loh pasca ditinggal pengasuhnya, meski udah diganti pengasuh lain tapi anaknya baper. Maunya cuma sama pengasuh yang dulu, disertai aksi mogok makan atau tantrum. πŸ’’πŸ’’

Namanya anak-anak kan emosinya belum stabil. Dengan perubahan yang mendadak seperti pergantian pengasuh itu merupakan salah satu shock therapy buat si anak. Maka dia akan menyalurkan emosinya which is, sedih dan merasa kehilangan sebagai side effect dari perubahan tersebut. Dengan cara ya itu tadi, entah mogok makan, tantrum, mogok sekolah dan lainnya.


Bulan Juni 2018 lalu, Ncus Rapunzel yang sudah mengasuh Leon selama kurang lebih dua tahun tiba-tiba menyatakan ingin berhenti kerja. Jadi dia minta maaf sehabis merayakan Idul Fitri di kampung, dia nggak mau balik lagi ke Jakarta. Alasannya karena Bu De nya di kampung lagi kurang sehat, sehingga dia diminta kedua orang tua nya untuk membantu merawat Bu De nya.

Kaget dan sedih lah ya gue pas denger itu, udah gue coba bujukin tapi nggak ngaruh. Kewalahan banget sih apalagi saat itu Leon mau mulai sekolah. Dan mencari babysitter pasca Lebaran itu nggak gampang loh. Memang sih banyak pencari kerja yang baru datang dari kampung, tapi yang membutuhkan juga banyak. Jadi kita harus waiting list dulu untuk mendapatkan babysitter baru.



Every working mom knows the struggles ya, lolπŸ˜‚πŸ˜‚

Jatah cuti tahunan tuh pasti habis karena pasca Lebaran belum dapat pengasuh baru. Syukur-syukur kalo masih bisa bawa anak ke kantor atau menitipkan sama mertua karena rumah kita satu kota. Apa kabar sama ibu-ibu yang jauh dari orang tua? Terus regulasi kantor kaku dan strict, nggak boleh bawa anak ke kantor. Waduh, repot dan capeknya double….😭😭

Akhirnya setelah nyari ke sana sini, menunggu antrian dan interview babysitter dari satu yayasan ke yayasan lain, ketemu lah sama Ncus Masha. Pengalaman kerjanya pernah pegang balita yang autis, meski hanya lulusan SD tapi Ncus Masha pinter bahasa Inggris loh. Awalnya sempet ragu karena dia ini udah punya anak di kampung. Pengasuh yang dulu-dulu selalu masih single, makanya gue sempet kepikiran kalo ntar dia ngasuh anak gue terus jadi kepikiran anak dia sendiri gimana ya?



Dari awal gue utarakan aja perasaan dan pikiran yang mengganjal itu, bukan untuk mengancam atau melarang si nanny nggak boleh mikirin anaknya sendiri loh ya. Intinya adalah gue pengen dia tetap komitmen sama pekerjaannya. Dan untungnya, dia bisa mengerti dan meyakini anaknya di kampung ada bapak dan kakek neneknya yang merawat.

Beberapa minggu setelah Ncus Masha mengasuh Leon, gue mengamati orangnya telaten dan sabar banget. Bisa mengikuti dan memahami anaknya dengan baik. Sejak ganti pengasuh ini, Leon justru nempel banget sama Ncus Masha. Bahkan biasanya tiap gue pulang kerja, Leon akan excited menyambut terus buru-buru ngajak main. Mau mandi aja nggak sempet karena kalo gue mandi aja kadang Leon ikut ngintilin ke kamar mandi.

Nah, sejak sama Ncus Masha ini dia malah jadi biasa aja kalo gue pulang kerja. Kadang malah nggak mau sama gue, maunya sama Ncus terus 😒😒



Padahal gue rutin sounding ke dia, “Leon itu main sama Ncus kalo siang pas ada matahari dan mama kerja. Kalo malam sudah gelap dan mama sudah pulang kerja, Leon mainnya sama mama.” This doesn’t work though, until several days

Jadi tiap pulang kerja gue mesti bujukin lamaaa banget supaya Leon mau sama gue. Kadang tiap pulang ke rumah gue bawain es krim atau Yupi kesukaan Leon baru dia mau, kalo nggak ya harus pake drama dulu deh saat mau pindah tangan dari Ncus ke gue πŸ˜“

Sekarang sejak sekolah, Leon pulang sekolah dijemput mertua dan dibawa ke rumah mertua sampe sore. Jadi gue pulang kerja jemput ke rumah mertua dulu baru pulang ke rumah. Nah, mertua juga beberapa kali bilang kalo sama Ncus yang baru ini nempel banget. Kadang pas mau bobo siang, mertua bujukin Leon bobo sama Oma, eh ditolak juga. Maunya bobo siang sama Ncus nya aja, waduh….


Buat gue sebenernya anak dekat sama pengasuh itu justru bagus sih karena artinya pengasuhnya beneran sayang dan nggak jahat atau sering marahin anak. Karena ya itu juga ketakutan lainnya, anak dijahati pengasuh kan. Memang rumah udah full dipantau kamera CCTV tapi namanya manusia kalo udah khilaf, kita bisa berbuat apa?



Tapi kalo kasusnya seperti anak gue yang nempeeel banget gini sama Ncus barunya, gue juga nggak bisa tinggal diam. Masalahnya gue dan mertua jadi kewalahan karena meski anaknya udah dibujuk tetap nggak mau. Padahal kan kita juga mau kebagian main dan sayang-sayang sama dia. Akhirnya gue lakukan beberapa hal supaya Leon nggak terlalu nempel sama Ncus Masha tapi juga nggak mengurangi kadar kedekatan mereka ya.

  • Komunikasikan dengan pengasuh
Kasih tahu kendala yang saat ini lagi kita rasakan dan ajak kerjasama si pengasuh. Gue ajak si Ncus Masha untuk kasih tahu Leon, kalo mama pulang kerja harus mau sama mama. Kalo nggak nanti mama sedih, Leon sedih kan kalo mama sedih. Dan berbagai teknik bujuk rayu sejenisnya lah. Tapi pastikan juga jangan sampai bujuk rayu disertai embel-embel menyuap atau menakut-nakuti seperti nanti kalo mau sama mama dikasih Yupi, atau kalo nggak mau sama mama nanti nggak dibeliin mainan lagi, and such. Karena intinya kita mau membangun pikiran dan hati si anak. Kalo pake disuap atau ditakuti nanti dia jadi nggak tulus dari hatinya.

  • Buatkan daily schedule sederhana
Meski masih anak-anak, mereka itu mengerti setiap hal yang kita ucapkan loh. Jadi jangan ragu untuk selalu menjelaskan bahwa satu hari itu terdiri atas 24 jam dan dibagi-bagi untuk melakukan kegiatan tertentu. Kalo gue sih bikin daily schedule sederhana aja. Misalnya:


8 – 11 pagi      : jam sekolah,
11 – 12 siang   : jam makan siang
1 – 3  siang      : jam tidur siang
4 – 6 sore        : jam main dan belajar sama Ncus
6 – 9 malam    : jam main dan belajar sama mama papa

Ini cukup efektif loh, apalagi umur Leon gini udah mengenal angka. Jadi kalo liat angka di jam, dia bisa sebut jam nya dengan benar. Kemudian dia nanya, “Sekarang jam 9, harus apa?”

  • Luangkan waktu lebih banyak untuk anak
Bagi ibu yang bekerja di kantor dan baru ketemu anak cuma bisa malam dan weekend, jangan kecil hati. Justru gunakan waktu yang minim ini dengan maksimal. Sebisa mungkin tidur malam ya sama kita jangan sama pengasuh. Kalo weekend, kurangin waktu anak sama pengasuh bahkan kalo bisa biar aja full day selama weekend itu keperluan anak sama kita. Mulai dari bangun tidur, mandi, makan, main dan belajar ya bener-bener full sama kita. 

Gue juga menerapkan hal ini ke Leon dan Ncus Masha. Biasanya kalo weekend kita suntuk di rumah, ya udah jalan-jalan dan main aja ke Mall. Itu gue nggak ajak Ncus Masha, jadi biar dia bisa istirahat di rumah. Gue soalnya risih kalo mau Q-time (quality time) sama anak dan suami sementara ada Ncus gitu. Belakangan dia minta ditambahin kerjaan rumah tangga jadi kalo Sabtu Minggu ditinggal nggak bengong-bengong doang. Tapi tentunya gue kasih ekstra juga gajinya ya.



Oh, jangan khawatir soal “ Kasihan dong Ncus nya nggak diajak jalan-jalan, nggak refreshing “ Hal ini gimana kita memperlakukan si pengasuh, kan bukan berarti nggak pernah diajak jalan sama sekali. Soalnya hari-hari biasa mertua sering banget ajak Leon jalan ke Mall, dan Ncus nya pasti dibawa. Bahkan kayanya lebih sering mereka nge-Mall sih dibanding gue hahahaha


Kalo acara keluaga kecil-kecil, ulang tahun, undangan nikahan atau hari Minggu ke Gereja juga gue hampir nggak pernah bawa Ncus. Acara keluarga paling Sincia ya baru bawa, karena gue biasanya akan repot bantu urusan nyiapin makanan, bagi angpao dan sibuk ngobrol sama keluarga besar yang ketemunya setahun sekali.



So far, hal-hal itu aja sih yang gue pribadi terapkan ya. Dan untungnya sekarang Leon udah nggak terlalu nempel banget sama Ncus. Dia jadi mengerti waktu-waktu yang harus sama Ncus, dan kapan waktu-waktu harus sama Mama. Nggak pernah pilih-pilih juga maunya sama mama aja, atau Ncus aja. Udah mulai ngerti sih kayanya 😊

Nah, kalo kalian gimana pendapatnya soal anak terlalu dekat sama pengasuhnya? Buat gue, dekat asal dalam tahapan wajar dan bisa dikontrol is okay. Tapi kalo dekat sampe level yang nempeeeel banget dan selalu pilihnya Ncus terus dibanding orang tuanya ya sudah nggak wajar dan memang harus ada yang dibenahi. Setuju nggak buibuk?



ADRIFT IN DIGITAL ERA - Ombang Ambing di Dunia Digital

Thursday, 1 November 2018



Wah,…tak terasa sudah bulan November lagi! Artinya tinggal 60 hari tersisa menjelang tahun berganti. Apa aja yang sudah kalian lakukan di 2018 ini? Apa hanya sibuk menikmati? Lalu apa kabar resolusi?


Ketoyor nggak tuh? Sungguh suatu prolog yang lumayan bikin panas hati ya. Pasalnya, saya sendiri sungguh jauh dari pencapaian resolusi. Semua yang direncanakan pada awal tahun sudah mulai terlupakan. Seperti kapal terombang ambing di lautan lepas 🌊

Persis cerita di film Adrift, kisah nyata sepasang suami istri bernama Tami dan Richard diperankan oleh Shailene Woodley dan Sam Claflin, tentang cerita mereka bertahan di sebuah kapal pasca dihantam Raymond Hurricane. Menariknya, si istri akhirnya selamat setelah 41 hari terombang ambing di Pacific Ocean.

Ini kenapa jadi ngomongin film? Hahaha. Ketahuan deh ya, semua kegiatan jadi ke distraksi sama nonton film πŸ™ˆ

Anyway, seperti tahun-tahun sebelumnya, memasuki bulan November saya pasti mulai merangkum tahun yang sedang berjalan dan akan berakhir dalam 2 bulan itu dalam satu kata. Kalo di 2017 kata yang tepat menggambarkan cerita hidup saya adalah Cotton Candy (permen gulali). Di tahun 2018 ini saya lebih suka merangkumnya seperti judul film yang tadi dibahas: ADRIFT.

So, what makes a Cotton Candy suddenly becomes Adrift?

2017 itu rasanya manis dan lembut, semua hal terjadi sesuai rencana bahkan melebihi ekspektasi. Nah, di tahun ini semua kejadian berjalan lambat banget dan nggak ada hal berarti yang terjadi. Entah dari sisi karir dan pekerjaan maupun target-target yang ingin dicapai.

Specifically speaking, target keuangan yang lagi disusun ternyata mundur jauh dari rencana. Padahal udah ngarep banget tahun ini bisa menikmati akhir tahun di luar Indonesia, merayakan pergantian tahun dengan gegap gempita. Nggak seperti tahun-tahun sebelumnya yang ujung-ujungnya malah pengap sama asap barbeque di teras rumah.

Meski begitu, kondisi keuangan bukannya yang cekak-cekak amat sih. Masih bisa menikmati hidup kok, jalan-jalan singkat keluar kota, main dan makan di Mall. Masih bisa belanja online tanpa pusing sama cicilan hutang 😝😝

Image source: pexels.com


Untungnya masih bisa menulis unek-unek di blog, jadi nggak sampai stress berkelanjutan. Enaknya hidup di era digital salah satunya ya ini nih. Kalo lagi nggak kesampaian mau liburan, ya buka platform social media aja lihat kebahagiaan orang-orang yang berlibur ke berbagai destinasi wisata. Mupeng sih tapi nggak apa-apa, sekarang mungkin hanya bisa nge-like foto-foto orang liburan. Next time, mereka yang nge-like foto saya lagi liburan. Hahaha

Buat kalian para pengabdi social media dan hidupnya nggak jauh-jauh dari perkakas digital, beberapa hal ini penting untuk bertahan dan jangan sampai hanyut dalam gemerlap digital era:

Bikin perencanaan keuangan yang baik

Bukan anak akuntasi maupun keuangan? Nggak apa-apa! Gunakan prinsip dasar yaitu jangan besar pasak daripada tiang. Penting untuk mencatat detail setiap pengeluaran, supaya setiap akhir bulan bisa kita review apakah kita menghabiskan terlalu banyak untuk belanja dan jajan? Lalu bagaimana dengan jumlah tabungan dan investasi? Jangan sampai dananya terpakai untuk hal-hal yang nggak penting seperti flash sale di e-commerce atau khilaf saat harbolnas ya!

Image source: pexels.com


Bikin skala prioritas

Punya wishlist akan sesuatu itu manusiawi. Tapi jangan sampai memaksakan keinginan padahal nggak ada kemampuan financial. Apalagi di era digital ini banyak fin-tech yang menawarkan fasilitas kredit rekanan dengan berbagai online maupun offline store brand-brand hits setanah air. Bisa sih tampil kece dan kekinian, tapi di balik foto OOTD (outfit of the day) , gadget keluaran terbaru dan foto-foto liburan di social media itu, yakin nggak ada cicilan hutang dibaliknya?


Bijak dalam menggunakan smartphone dan social media

Menghabiskan waktu berjam-jam scrolling di social media itu menyenangkan pastinya. Sudah pernah dihitung belum kira-kira dalam sehari waktu yang kamu habiskan hanya untuk scrolling dan kepo-in profile orang itu berapa lama sih? Akan lebih bermanfaat jika waktu tersebut digunakan untuk hal bermanfaat, seperti membaca berita atau blog orang-orang dengan latar belakang dan informasi yang berbeda. Kalo masih buta soal perencanaan keuangan, bacalah artikel-artikel tentang ekonomi dan financial. Niscaya, kamu bisa menjadi lebih hebat dan hemat πŸ˜„πŸ˜„

Image source: pinterest.com


Belajar dari ketiga hal itu, saya jadi lebih bisa berdamai dengan kenyataan. Nggak apa-apa lah rencana liburan akhir tahun tertunda. Yang penting keuangan stabil dulu dan lebih penting lagi, saya merasa jauh lebih produktif.

Tahun 2018 ini lebih banyak menghasilkan tulisan di blog, karena sejak akhir tahun lalu saya akhirnya beli domain. Supaya lebih enak dan singkat juga alasan personal, bikin lebih semangat menulis. Pilihan langsung jatuh pada DomaiNesia karena dapat promo waktu registrasi pertama kali. Domain murah hanya Rp 99 ribu untuk satu tahun!

Beberapa waktu lalu dapat push email, diingatkan oleh DomaiNesia untuk melakukan perpanjangan karena domain www.jeenatassya.com sudah mau expired 30 hari lagi. Akhirnya langsung deh buru-buru login dan melakukan renewal domain. Ternyata DomaiNesia lagi merayakan ulang tahun yang ke-9. Wah, sudah menjelang ABG nih ya.. 😝



Gambaran singkat mengenai DomaiNesia, merupakan salah satu perusahaan layanan web terkemuka dengan menyediakan jasa layanan registrasi domain, hosting, SSL dan modifikasi website. DomaiNesia memudahkan kebutuhan para blogger maupun para pemilik bisnis online untuk mempercantik dan memaksimalkan tampilan web mereka.



Untuk kemudahan cara pembayarannya pun tergolong lengkap dan cukup mudah. Bisa melalui transfer bank maupun pembayaran instan seperti virtual account, kartu kredit dan paypal.



Setiap bulan juga kita dikirimkan artikel DomaiNesia Monthly Insights ke email terdaftar. Banyak sekali artikel berupa berita dan tips bermanfaat seputar dunia teknologi dan web. Memudahkan banget waktu awal-awal nge-blog, semua lengkap dikupas tuntas. Buat kamu yang mau coba bikin blog dengan domain silakan mampir ke sini: Membuat Blog Profesional






Untuk kamu yang mau ikutan memeriahkan semarak ulang tahun DomaiNesia ke-9 ini bisa ikutan event BLOG & LOCK. Lomba blog dari DomaiNesia dengan total hadiah jutaan Rupiah loh. Caranya bisa cek ke website: Lomba Blog DomaiNesia

Nah, jadi gimana kalian masih mau hanyut terbuai di #digitallife ini kah? Atau mau memulai perubahan menjadi pribadi lebih baik? Choose your choice #madepossible. Jangan lupa, tinggal 2 bulan lagi 2018 akan berakhir. Mulai susun yuk resolusi dan rencana hidup di tahun 2019! Mungkin kalian bisa mulai dengan migrasi domain ke DomaiNesia? 😜😜

Here to sum up the post, just a favorite quote from Adrift movie.
" What's it like sailing out there on your own? "
" It's a feeling that I can't describe. The view and the infinite horizon "


(Akhirnya!) Sukses Toilet Training

Wednesday, 31 October 2018



Lanjutan dari cerita yang lalu seputar suka duka dan perjalanan panjang toilet training. Meski judulnya masih mirip-mirip, tapi tulisan yang lalu kayanya lebih banyak keluh kesahnya sih. Memang nggak berbobot sekali isinya, selain hanya menguatkan sesama ibu-ibu yang masih berjuang lulus toilet training.

Baca part sebelumnya: Suka Duka Toilet Training

Nah kali ini, gue pengen coba berbagi kebahagiaan sekalian informasi yang mudah-mudahan bisa membantu kalian yang masih berjuang. Yup, setelah hampir 1.5 tahun akhirnya lulus juga toilet training ini *fiuh* πŸ˜…πŸ˜…

Bagi gue, toilet training ini adalah fase tersulit selama punya anak. Drama-drama saat menyusui maupun menyapih, GTM maupun speech delay yang pernah gue lalui waktu-waktu lalu, bener-bener nggak sebanding deh dengan perjuangan toilet training. Kenapa? Karena bener-bener menguras emosi, membutuhkan kesabaran yang super ekstra serta belajar untuk menerima kenyataan bahwa semua yang udah direncanakan nggak selalu berjalan lancar.

Cerita kelulusan toilet training gue dan Leon berawal sekitar awal bulan September 2018. Seperti yang pernah gue ceritain sebelumnya, proses ini sebenernya udah dimulai sejak tahun lalu. Tepatnya di bulan Juni 2017 saat Leon berusia 2 tahun. Tapi ya gitu, semua berjalan lambat dan nggak ada kemajuan berarti. Anaknya tetep nggak bisa lepas diapers, kadang cuma di weekend saat siang hari. Kadang bener-bener nggak mau lepas sama sekali.

Baca juga: Welcome to TWODDLER WORLD, Leonhart!

Penggunaan diapers setiap hari itu rata-rata masih 5-6 kali, pengeluaran untuk diapers dalam Rupiah selama sebulan……silakan dihitung ya ibu-ibu. Diapers yang dipakai size XXL tentunya ya karena berat badannya udah 16kg πŸ˜“πŸ˜“



In case your miss my story, jadi meski udah diajak pipis ke toilet biasanya dia nggak mau pipis. Tapi begitu dipakaikan diapers, eh langsung pipis. Atau kalo nggak dipakaikan diapers, kita bujukin pake celana dalam. Ya byaarrrrπŸ’¦πŸ’¦, pipis lah dia di celana dalam alias NGOMPOL. Mana lah umur segitu pipisnya banyak bangeeeeet, bisa sampe banjir kemana-mana.

Sama halnya saat poopπŸ’©πŸ’©, setiap diajak nongkrong di kloset anaknya cuma cengengesan aja. Padahal sebelumnya keliatan gerak geriknya (seperti ngeden, diem di pojokan, buang angin dan pasang muka serius) dan langsung buru-buru digotong ke kamar mandi. Tapi tiba-tiba hilang lah perasaan dia untuk buang air itu. Akhirnya dipakaikan diapers atau celana dalam lagi, dan ya selanjutnya bisa ditebak lah ya kelanjutannya πŸ˜‚πŸ˜‚

Ini berlangsung lama banget kaya gini terus. Gue yang tadinya semangat untuk toilet training, termotivasi ibu-ibu selebram di social media. Idealnya anak toilet training itu 2 tahun, no more or less. Lalu lama-lama gue pasrah lah, udah terserah anaknya aja mau sampe kapan pake diapers. Gue percaya aja akan ada waktunya sendiri, entah sampai kapan…..

Then suddenly, the time has come….
Beneran, ini bener-bener tiba-tiba. Nggak direncanakan sama sekali 😁😁

Jadi waktu awal September itu, si Leon ada kegiatan berenang bareng di sekolahnya. Bareng itu maksudnya ya sama temen-temen sekelasnya, dimana itu satu kelas udah nggak ada yang pake diapers selain Leon. Awalnya pas tau kenyataan ini, gue sempet down sih. Minder banget sama ibu-ibu lain di sekolahan, tapi mereka ya nanggapin santai aja. Malah encourage dan menguatkan gue selalu dibilangin; “Gapapa, nanti juga bisa, nanti ada waktunya…”

Baca juga: THREENAGER: Worst or Better?

Ini juga udah sering gue sounding ke Leon, gue ceritain temen-temen udah nggak ada yang pake diapers. Memang Leon nggak malu and such things…. Sampe pernah gue bilang: “Mama tuh sedih karena cuma Leon yang masih pakai pampers, di kelas Leon udah nggak ada loh yang pake pampers” disertai acting muka sedih tentunya ya…

Nggak ngepek gengs…..dia cuma pukpuk-in gue aja dan malah dibilangin mama jangan sedih. Hahahaha πŸ˜“πŸ˜“



Nah, waktu momen berenang di sekolah ini lah gong-nya. Ternyata waktu abis berenang kan mereka mandi dan pake baju sama-sama lah ya. Dan di situ kayanya si Leon ngeliat temen-temen pake celana dalam lucu-lucu, ada yang bergambar Batman, PJ Mask, bahkan ada yang model boxer gitu. Sementara cuma dia kan yang pake pampers. Kata nanny sitter di sekolah, si Leon nanya loh “ Mana celana dalam Leon? “ Lol πŸ˜‚

Begitu sampe rumah, dia kan mandi lagi tuh yaa.. Lalu dia bilang sendiri sama nanny di rumah, nggak mau pake pampers maunya pake celana dalam gambar-gambar (untung request nya nggak spesifik gambar apa lol)

Begitu denger gitu ya langsung gue kasih tau nanny-nya Leon, ikutin aja maunya. Tapi harus rajin ya ajak dia pipis, waktu awal lepas diapers itu masih setiap satu jam sekali. Pipis nggak pipis yang penting ajak ke toilet. Sambil dibilangin terus-terusan, kalo sekarang sudah nggak pakai pampers artinya nggak boleh ngompol dan setiap mau pipis harus bilang.

Untuk tahap pertama ini, agak susah kalo poop. Anaknya masih belum terbiasa ngomong dulu kan, jadi selalu udah keluar poop baru bilang. Jadi masih PR banget tuh setiap poop harus ngucekin celana dalamnya 😭😭

Harus selalu diingat semua proses itu penting dan nggak ada yang instan. Jadi ya meski dia poop di celana, jangan dimarahin. Kasih tau baik-baik kalo poop di celana itu artinya jorok, kalo gue biasanya kasih embel-embel seperti sayang loh celananya bagus-bagus kena poop jadi rusak. Kalo rusak udah nggak ada celana lagi, artinya mama harus beli lagi. Duit mama habis deh beli celana. Apa nggak mendingan duit mama untuk beli mainan aja? Hahahaha

This works though. Setiap kali dia poop di celana, dia ngomong sendiri deh tuh. Celana Leon rusak ya, nanti nggak bisa beli mainan ya nggak ada duitnya. Lolllll πŸ˜‚πŸ˜‚

This happens quite often since September, until one day he can finally say everytime he want to pee. Then he can say everytime he want to poop.

Jadi prosesnya kalo dirangkum:

Tahap pertama (September 2018) : Leon willingly alias dengan kemauannya sendiri berhenti memakai diapers. Tahap awal ini masih harus rajin tatur pipisnya, setiap satu-dua jam sekali ajak pipis ke toilet.

Tahap kedua : Leon berhasil bilang setiap kali mau pipis. Kalo poop masih di celana dan masih nggak mau ngomong.

Tahap ketiga: Leon berhasil bilang setiap kali mau poop. Jadi dia udah bisa mengukur waktu perut mulai mules, dia langsung bilang mau poop. Diajak nongkrong deh di kloset dan berhasil deh poop di kloset.

Semuanya bertahap ya, nggak langsung ketiga-tiganya berhasil. Jadi ya tetap harus ekstra sabar dan jangan lupa sounding ke anak. Kuncinya, jangan pernah marah sekalipun dia ngompol atau poop di celana. Ini hal yang salah memang, tapi sekali kita marahin dia akan takut untuk bilang. Si anak akan merasa gagal dan malu, kita juga bakal repot karena prosesnya jadi mundur lagi.

Ini gue alami sendiri, pernah suatu kali dia poop di celana. Eh ternyata belum selesai tuh poop-nya, jadi pas baru ganti celana nggak lama dia poop lagi di celana baru itu. Langsung kebawa emosi dan marah deh ya, “Kenapa sih tadi poop-nya nggak sekalian aja! Kalo kaya gini kan mama ngucek lagi jadinya “

Wah….abis itu anaknya ngambek. Meski udah bisa bilang mau pipis, dia sengaja loh abis itu ngompol di celana lalu abis itu dia mogok pake celana dalam maunya diapers 😭😭

Baca juga: Manners for Children

Untuk peralatan perang selama perjuangan toilet training ini gue nggak invest terlalu banyak sih. Cuma beli alat potty untuk kloset yang ada pegangannya sama Boys's Potty Training Baby Safe gambar kodok. Bisa mampir di Poko Tots ya buat lihat pilihan motif dan warnanya.





Image source: www.babysafe.co.id


Tadinya sempet mau beli si Bumbo Potty Toilet Trainer itu katanya efektif ya membantu si anak pewe dan betah saat poop di kloset. Tapi lihat harganya aku kicepppp….

Image source: www.bumbo.com


Dan jangan lupa belanja celana dalam yang lucu dan bervariasi ya. Untuk model celana dalam biasa itu gue beli sama sodara, kebetulan beliau punya konveksi. Lucu-lucu juga sih motifnya. Untuk model boxer, gue beli merk Arden & Leon. Di Shopee dan Tokopedia ada kok, silakan dicari ya ibu-ibu…. Bahannya katun spandex gitu jadi adem kok, motifnya sih simple ya nggak terlalu banyak gambar. Tapi imut-imut banget….






To sum up the whole story about toilet training, jangan lupa berikan apresiasi pada anak dan supporting team seperti nanny atau suami, siapapun pihak yang terlibat dalam proses ini. Untuk Leon akhirnya gue beliin dia mainan deh, budget beli pampers-nya untuk beliin dia mainan aja.



Sementara untuk nanny, gue kasih bonus pas gajian. Supaya dia juga merasa diapresiasi atas kesabarannya ya kan, karena proses toilet training ini kalo tanpa si ncus kayanya nggak bakal mulus. 

Baca juga: Tentang Pengasuh Anak : ART Momong VS Babysitter

Lastly, untuk mama-nya jangan lupa ada budget bulanan yang tadinya budget pampers bisa dialihkan untuk nambah-nambahin budget skincare or makeup! Hahahaha

Goodluck mamak-mamak! Demi ekstra budget belanja makeup! πŸ’ͺπŸ’ͺ


Auto Post Signature

Auto Post  Signature
Back to Top