Find Me on Social Media

10-10 yang ke-10

Wednesday, 12 October 2016
After ten years....

We still madly in love *uhuk-uhuk*

Ga berasa banget udah sepuluh tahun aja terhitung dari RESMI pacaran, SAH di altar bahkan sekarang udah bergelar PAPA MAMA EON. Dari jaman rok sekolah masih biru muda, ke biru tua, ke abu-abu, sekarang udah pake rok hitam. Masih suka lupa kalo kita sekarang udah jadi orang tua, secara kelakuan (kadang-kadang) masih suka kaya bocah. Kalo masuk toko mainan dikira orang beliin mainan buat anak, padahal bapaknya nyari koleksi hot wheels new collection. Atau kalo nongkrong di toko buku dikira orang nyari buku parenting atau cooking, padahal emaknya nyari koleksi serial Hai Miko terbaru, Lol.



Even after ten years, I still got the same butterflies just like the very first time we met.
And he is still the same person I knew, maybe he just turns a little better, wiser and kinder but he still who he is. His charms and the way he love me still the same, too. It's the way he let me grew from a clueless little girl to become a better person. The way he never force me to change but he guide my way, my point of view over things. He was the one who believe in myself, that I can be fixed, that I am way more better than before. Because he was there in my lowest point, and he risen me up. And I fell not only with himself, but with myself, too.

Dari dulu udah kebiasaan ngitungin hari jadi kita, makanya momen sepuluh tahunan ini seharusnya sih biasa aja karena toh kita udah nikah, udah ke-reset kan sebenernya. Tapi ya gimana dong ya, pingin aja kilas balik ke jaman-jaman alay dulu. Waktu masih sama-sama punya ego besar dan masih sering ngambek cuma gara-gara bales sms lebih lama 1-2 menit dari biasanya. Waktu masih jaim-jaim, malu-malu kucing, tiap ngajak nge-date kalo ngga diijinin ortu atau ngga punya duit alesannya ada les atau mau main basket di lapangan komplek, huahahaha...

Bersyukur banget bisa dipertemukan sama Beey karena tanpa dia mungkin gue bukan Janice yang sekarang. Karena mungkin tanpa dia juga ngga sebegini exciting dan challenging hidup gue sekarang. Unlike the other love stories, kisah gue sama Beey mah termasuk Standard. Ngga banyak lika likunya, ngga kepentok restu orang tua, atau agama dan ras, ya Puji Tuhan lah selama sepuluh tahun semua bisa dibilang lancar tanpa suatu halangan yang berarti.

Dulu sempet banyak kehebohan dan drama-drama cinta monyet yang mana kita dua pribadi yang saling bertolak belakang dan penuh perbedaan, si Beey kakak kelas tenar yang digandrungin cewe-cewe cakep sementara gue si anak alim yang biasa-biasa aja, kerjanya pulang sekolah paling juga bobo siang.

Sampe sekarang, we still in learning process kok karena ada banyak perbedaan yang sampe sekarang kita juga masih sama-sama susah nyatuinnya. Si Beey yang doyan banget bawang goreng sementara gue ngga. Yang kalo makan bubur atau bakso solo dia mah kudu pake kecap manis segambreng sementara gue lebih suka kecap asin. Yang kalo makan oncom selalu pake ngambek karena dia mau-nya kering sedangkan gue mau-nya setengah kering.

Seiring berjalannya waktu, masing-masing diri kita sama-sama merasa aman dan nyaman. Beruntung karena gue yang sangat-sangat tidak ekspresif dalam hal apapun ini dipertemukan dengan Beey yang supeeeer ekspresif. He always as straight as yes or no, either I was wrong or right, and in most difficult times he could decide what's the worst or the best path for us. People usually see him as a selfish one, tapi justru entah kenapa, somehow, his ego even made me fell deeper. Kalo kata orang, iya kita berdua itu cocok. Yang satu bego, yang satu gede ego, Lol.

Jadi inget waktu si Beey ditanya kenapa milih Janice dari sekian cewe yang ada, katanya "Because the way the sound of her name could silence my demons.."
Katanya gue itu satu-satunya orang yang bisa bikin dia mikir tanpa konfrontasi. Hmmm....

Beruntung karena gue dikasih kepercayaan untuk disandingkan dengan pasangan yang sepemahaman dan satu pikiran. Banyak hal yang tanpa harus gue utarakan pun dia bisa baca isi hati dan pikiran sampe kadang kesel, susah banget ngumpetin unek-unek dari si Beey. Muka ditekuk bentaran juga udah ditodong pertanyaan, atau giliran udah mulai misruh-misruh ga jelas udah disodorin es krim atau diculik ke tukang bakso. Well I guess, we are not only partner in love but also partner in life, partner in crime, kadang pikiran jahat aja bisa sama, ckck *ketawasetan*

Even after so many years, I still amazed of the smallest things he did for me. Yang dari dulu ga pernah itung-itungan dan rela duitnya abis buat berdua (bertiga sekarang sama Leon) daripada buat dirinya sendiri. Yang kalo sehari-hari dikasih uang jajan kelebihan malah ngomel balik --" Yang dengan segala pride yang dimilikinya rela berendah diri demi keluarganya. Yang selalu menomorsatukan istri dan anaknya, dan selalu merasa 'kurang' memberikan yang terbaik dari dirinya. Anything he did not a single time made me love him less, even when he was himself and most people saw him bad or evil, I am probably the only one saw the good in him. The one I still gonna say 'I do' for the next few years.... *Cheers to many fabulous years ahead*
Post Comment
Post a Comment

Auto Post Signature

Auto Post  Signature
Back to Top