Find Me on Social Media

Rasanya Nikah Muda....?

Wednesday, 1 February 2017

Dulu kalo ditanya kaya gini, iya duluuu banget waktu belom punya anak ceritanya, nikah muda itu rasanya manis, happy, rasanya tiap hari honeymoon deh yaaaa... For you all may know, gue nikah di usia 22 tahun, sementara si Beey baru 25 tahun. Masih piyik amat ya? Tapi bukan, bukan karena MBA alias Menikah karena Bikin Anak duluan (iyee ini maksa banget emang), justru dulu awal nikah kita pengen nunda dulu punya anaknya, for at least, 2 tahun lah gitu. Kenapa? Because we were married young, too young, I guess. Waktu itu gue nikah belom juga kelar kuliah, masih skripsian. Sementara si Beey baru banget mulai kerja, masih juga staff dengan gaji fresh graduate. Mau gimana pula kita mikirin punya anak. Alasan ceteknya dulu kalo ditanya kenapa atuh lah kalian nikah kok buru-buru amat, jawabnya: 1. Karena kita pacaran udah kelamaan, udah kaya orang nikah, duit selalu sama-sama, mimpi dan visi misi kita juga udah sama terus ya kita pikir apa susahnya sih tinggal nikah doang dan tinggal sama-sama; 2. Karena kita pengen punya BANYAK trip halal, lol. Cetek ya..



Dan makin ke sini gue jadi kepikiran, kenapa ya hidup pernikahan itu selalu digambarkan yang manis-manisnya doang. Kaya di film-film, kok kayanya unyu-unyu gitu kan kalo pasangan muda punya anak terus foto selfie pake caption happy family, atau ketika liat megah dan romantisnya pernikahan Glenn-Chelsea dan Harvey-Sandra dengan caption-caption romantis ala-ala Glenn *Geez, atau ketika film-film dimana si ayah bawain bedtime stories ke anaknya kemudian setelah semua anak tertidur pulas, si ayah ibu itu bisa me time berduaan sambil minum wine, nonton TV dan sex before sleep. Believe me, that’s all JUST in the big movie, lol.

Kenyataannya segimana gue dan Beey nunda kehamilan itu, 8 bulan setelah nikah kita dipercayakan anak juga, gue hamil. Dan cerita lengkap kehamilan bisa di cek di sini:


Sementara waktu itu kita masih muda dan naif, kita HAPPY waktu liat test pack hasilnya dua garis. Ngga mikirin nanti akan struggling kaya gimana setelah punya anak, secara psikis dan financially. Kalo dikilas balik ke masa itu, gue merasa menjadi sosok yang ngga bertanggung jawab banget loh. Tapi juga ya udah dikasih kepercayaan untuk hamil dan punya anak, sementara di luar sana banyak orang susah buat punya anak. Gue bukan ngga bersyukur karena dikasih anak di usia semuda itu, tapi lebih ke rasa takut: takut gimana nanti gue jadi orang tua sementara kelakuan juga masih kaya anak-anak, takut gimana nanti bayar biaya melahirkan, takut gimana nyekolahinnya, dan takut ini itu lainnya.

Menjelang ulang tahun pernikahan kita yang ke-3 ini, dengan kehadiran si baby Leon yang beranjak 20 bulan, banyak hal yang patut kita syukuri dibanding kita takuti. Walaupun kekhawatiran dan kegelisahan pasti ada, tapi justru bukan itu poin utamanya. Bagaimana kita saling melengkapi dan memahami situasi dan kondisi masing-masing dibanding mengutamakan ego pribadi dan mencari kekurangan atau weak point pasangan kita sendiri, we may just a reckless young married couple but we have this what strengthen us, we stick to the commitment to be together, karena pernikahan itu lebih dari hanya sekedar cinta-cintaan tetapi gimana kita masing-masing individu dengan kemauan dan banyak hal lainnya yang seringkali bertolak belakang berada tetap dalam satu perahu, satu tujuan. Karena pernikahan itu bak berada dalam perahu terdampar di lautan lepas, dengan tujuan utama kita hanya satu yaitu: BERTAHAN. Tapi ngga mungkin kan kita bertahan hanya dengan stay aja di situ dan ngga berbuat apa-apa? Itu namanya PASRAH, beda tipis emang. Namanya bertahan itu sebagai sebuah tim, sama-sama mikir mau gimana nih kita menyelamatkan diri? Nyari pulau terdekat ya harus saling sama-sama dayung perahunya sampe ketemu pulau terdekat, boleh lah dengan sekali-kali HARAPAN, akan ada kapal lewat yang bisa nolong kita. Karena manusia tak lepas dari yang namanya harapan, dan terkadang harapan dan mimpi itu justru menjadi PENYEMANGAT, trigger how to keep alive.

Jadi pertanyaannya, siapkah kalian membina rumah tangga? Ngga peduli apakah nikah muda, nikah pas umur atau nikah telat umur, intinya kalo mau nikah pastikan tujuannya sama dulu dengan pasangan yang kalian anggap sesuai dan mampu berkomitmen. Ngga usah muluk nyari pasangan setia, bertanggung jawab dan banyak duitnya, hal-hal itu NGGA CUKUP kalo ngga bisa menjunjung tinggi komitmen rumah tangga. Because marriage is hard, marriage with kids will be much harder than ever. Pernah denger kan istilahnya orang berubah sejak menikah? Entah berubah menjadi lebih happy dan lebih bertanggung jawab, atau justru berubah dari yang tadinya taat beribadah dan kalem tutur katanya mendadak menjadi abussive kind of person? Apalagi cewek. Setelah menikah dan punya anak, akan banyak hal-hal yang hilang dalam dirinya. Orang bilang gue kalo ngasih masukan tentang marriage, seringnya nakut-nakutin. Lah padahal gue orangnya jujur apa adanya loh, jadi gue Cuma telling the truth. Lagian bukankah emang seharusnya begitu ya, dikasih tau dong worst case-nya jangan Cuma tau-nya part unyu-unyu dan bahagianya aja.

Marriage after kids are way much harder, waktu kita bakal habis buat si anak, the king/queen of attention seeker. Akan banyak waktu-waktu yang hilang seperti me time, mandi selama setengah jam dengan santai tanpa terburu-buru, movie date (ini gue dan Beey terakhir kali nonton bioskop itu Mission Impossible Rogue Nation, yang ternyata sekarang di HBO aja udah diputer sehari 5 kali!), makan berduaan dengan tenang tanpa harus terbangun dari tempat duduk L dan lain hal sebagainya...... We missed the old days, when there was just the two of us. Ngga denial, ngga mau naif. Bukan berarti ngga sayang anak dan menghargai keberadaannya loh. Tapi ya itulah sisi buruknya, worst case scenario-nya. Jadi jangan taunya yang manis-manisnya aja, prepare for the worst lah. Kita tetep enjoy kok nge-date bertiga sama Leon.....di Timezone. Masih banyak hal yang kita lakukan bertiga, happy sama-sama, dan ngga memungkiri kehadiran anak itu juga melengkapi komitmen rumah tangga kami. Karena dengan mengurus anak sama-sama, we team up. We become an unbeatable team mate! Beey selalu sigap bantu ngeliatin dan nemenin Leon kalo gue lagi sibuk masak, nyuci atau berbenah. Kalo lagi makan, Beey juga selalu duluin bininya ini makan pertama soalnya dia tau bininya turns into monster kalo laper. After office pun segimana si Beey capek perjalanan jauh dan macet serta penat di kantor, and I know, he desperately need his time alone too, but still, dia dengan rela hati waktu santainya digangguin Leon karena gue butuh mandi, a peaceful 10 minutes under the hot water. Giliran malem udah anak bobo, rumah baru sepi dan sunyi giliran papa mamanya santai. The part of a glass of wine or beer while watching TV sih kita masih bisa lah ya, tapi sex before sleep? Nah. Bobo aja deh biar besok bangun badan seger dan capek-capek ilang ya..., Lol.

Anyway, after three years of our marriage, my Beey is still the person I would like to vow with to! Cheers!

Post Comment
Post a Comment

Auto Post Signature

Auto Post  Signature
Back to Top