Find Me on Social Media

Image Slider

Introvert Me

Wednesday, 31 May 2017


Have you ever tried this? https://www.16personalities.com/

Di situ kita bakal di test personality nya, gue sendiri took test ini udah agak lama deh kayanya, tapi baru inget aja mau dibikin postingannya. Hasilnya tak diragukan lagi lah bahwa aku ini 90% INTROVERT! Hahaha

Duh, antara malu dan kzl. Emang udah sering banget yang bilang aku ini introvert banget, tapi ya nggak nyangka aja hasilnya 90%, Lol. Tipe introvert aku itu The Advocates (INFJ – Introversion iNtuition Feeling Judging) aka aku si #TeamMelankolis ^__^

Ya namanya juga wanita lah ya sebagian besar isinya wanita-wanita melankolis, baperan, mood swinger. Terlepas dari aslinya gue juga anaknya cuek super karena ya pokoknya apa-apa suka-suka gue, kalo ada yang nggak suka ya udah sebodo amat, dan kemudian berakhir dengan gue yang overthinking dan bisa jadi over react pula, duh.



“ In relationships, INFJs can be warm and friendly. They are generally well-liked by the people who are privileged to know them. Yet at other times, they can be distant and analytical, retreating into themselves. INFJs often grow up feeling profoundly different from other people. They care deeply about others and like being a part of a community. Yet because of their “big picture” perspective on life, they may always feel like an outsider looking in. Like a rose, INFJs have many layers. They will probably not reveal all those layers to you right away. However, the longer you are in an INFJ’s life — and if an INFJ trusts you — the more petals you will discover, all the while moving further inward toward the core of the INFJ’s true self. Sometimes even INFJs don’t fully understand themselves “


Nah ini nih, gue itu nggak banyak temennya, bisa diitung lah pake jari. Tapi mereka ini emang temen-temen yang gue trusted dan merasa nyaman gitu. Gue bisa berubah like totally crazy kalo sama yang gue percaya, tapi kalo sama yang lain-lain yang deketnya biasa aja mah paling mentok kita Cuma bakal ngobrol tentang cuaca belakangan ini, politik yang notabene gue nggak ngikutin banget, atau kalo ada kesamaan hobi atau background pendidikan atau pekerjaan, hahaha.

Kalo ketemu orang baru kaya di lingkungan kantor baru, gue biasanya awkward banget. Cenderung butuh waktu lama untuk adaptasi dan pengenalan dengan mereka, cenderung jadi anak kuper di masa-masa awal, cenderung dibilang jutek dan sombong, huhuhu. Padahal emang dasarnya ya gue nggak mahir memulai suatu obrolan, memulai suatu hubungan gitu, kadang-kadang faktor hoki kalo ketemu orang baru yang ekstrovert, well at least biasanya mereka yang ngegabungin gue ke orang lain.

Hal terunik dari orang-orang introvert ini adalah mereka kalo terlalu lama berada di lingkungan yang ramai, yang sociable banget seperti acara keluarga besar, kondangan atau office gathering gitu selang beberapa waktu they got drained. It happens all the time sama gue. Jangankan acara keluarga besar, walaupun cuma acara ngumpul-ngumpul yang isinya mungkin paling banyak 20 orang aja gue bisa selesai acara itu: brain breeze, mood langsung moody. Beda lah sama orang-orang ekstrovert yang kayanya batere-nya nggak abis-abis, ngobrol ketawa ketiwi sana sini, ber-jam-jam pula. Makanya jangan heran kalo lagi acara ngumpul-ngumpul gitu awalnya gue mungkin masih keliatan keliaran berbaur, say hi sana sini, basa basi etc.

Selang 2-3 jam kemudian you’ll find me at the corner, playing with my own smartphone or probably just hanging around with my closest companionship. Nope, not because I hate it to be hanging around with a lot of people, it’s just that too many people could make me sick, huhuhu. Sick dalam arti kata yang baik loh ya, maksudnya kalo terlalu banyak berinteraksi dengan orang kadang gue suka ke absorp sama energi dan perasaan orang lain, terus kalo makin banyak orang akan semakin banyak emosi yang berkecamuk di dalam diri gue yang pada akhirnya bikin gue mood swing parah. Yang tadinya mungkin gue baik-baik aja, hepi-hepi aja terus bisa tiba-tiba jutek atau diajak ngomongnya nggak nyambung.

Secara orang kan pribadi dan tutur katanya beda-beda, ada yang kalo ngomong asal nyeplak aja tanpa mikirin perasaan orang lain, ada juga yang emang kalem dan lembut pembawaannya dan suka bikin gue sendiri gregetan. Nah, ketemu orang-orang yang beda-beda gini itu yang suka bikin gue EXHAUSTED. Lain cerita kalo ketemu orang-orang yang kenalnya udah puluhan tahun, yang karakternya udah bisa gue baca, terus gue mau ngobrol apapun bebas suka-suka. Waktu 2-3 jam justru nggak akan pernah cukup sih kayanya, Lol.



“ INFJs are sometimes called the “extroverted introverts.” They get this nickname because they can be passionate, enthusiastic, and talkative when they are in the presence of someone they feel comfortable with. Likewise, when they are fighting for a cause they believe in — like asking people to sign a petition to end animal abuse — they may come across as extroverts. However, INFJs are true introverts who prefer to have a small circle of friends. Just like any introvert, they need plenty of downtime to recharge their batteries. “


Nah, kira-kira ya gitu deh hasil personality test gue. I am a true introvert #TeamMelankolis

Gimana kalo kamu? :D

Terrible Two Series #1

Monday, 29 May 2017


It's been a while omg

Since writing is such a therapy untuk orang-orang model introvert kaya gue ini, tapi kemudian setiap kali udah banyak banget unek-unek atau ideas untuk nulis, terus pas buka laptop ya udah blank aja tiba-tiba.

I’ve been like, staring at the blank space then going blank, too, Lol

Lately, berhadapan dengan toodler yang bentar lagi usianya beranjak 2 tahun, gue mikir ini kalo ga cepet ditulis kayanya sayang. Sayang ama mentalitas gue-nya wkwkw! Seriously tho! Si Leon ini belakangan lagi superrrrb menguras mentalitas dan kewarasan. Tapi bukan tanpa sebab sih, gue sendiri paham ini kayanya fase awal, alias PRE-TERRIBLE TWO. Iya tjoy, baru PRE yang artinya nanti bakalan lebih supeerrb lagi rese-nya karena ini hanyalah pembukaan. Eniwei, alesan gue nulis ini bukan karena mau ngeluh dan marah-marah apalagi feeling ungrateful, tapi justru ini kan salah satu milestone-nya Leon. So I just don’t wanna pass this just like that, gue pengen milestone ini menjadi sebuah memori, yang nantinya saat udah lewat fase-nya, kita pasti baca ini sambil haru dan ‘ya ampun, akhirnya ya terlewati juga fase itu’ gitu….


Dari dulu sejak belom punya anak gue nggak pernah percaya pada istilah ANAK NAKAL. Kenapa? Karena ya senakal-nakalnya anak-anak, ya namanya juga anak-anak. Saat usia batita anak nakal tuh digambarin kaya apa sih? Lari-larian sambil teriak-teriak? Ngambil barang orang terus dilempar atau dirusakin? Nggak diikuti kemauannya kemudian tantrum, nangis kejer sambil guling-guling di lantai?

Oh. Itu mah bukan anak nakal guys, itu namanya ANAK CAPER. Serius. Usia batita emang fase mereka seperti itu, ini yang kemudian dikenal dengan istilah TERRIBLE TWO. Dimana biasanya fase kaya gini itu dimulai saat usia si anak menjelang 2 tahun. Menurut literatur yang gue baca sih, fase ini terjadi bisa beda-beda antara anak yang satu dengan anak yang lain. Ada yang sampe udah mau masuk SD masih caper aja terus, tantrum terus. Ada juga yang Cuma lasts sampe usia 3 tahun.

Biasanya kalo udah gedean dikit, mereka udah lebih ngerti dan bisa diajak kompromi. Dari dulu gue paling nggak pernah me-labeli anak orang itu anak nakal. Paling gue Cuma bilang anaknya aktif banget, anaknya nggak bisa diem banget, anaknya hebring banget dsb dsb. Lalu saat anak gue dilabeli sebagai anak nakal padahal usianya belum genap 2 tahun, reaksi gue gimana? BODO AMAT. Ya iya karena faktanya, orang itu yang nggak ngerti sama konsep anak nakal itu kaya gimana, tong kosong nyaring bunyinya.

Gue bukan tipe orang yang seneng anak kecil loh dari dulu, tapi gue aja paham ya namanya juga anak kecil ya begitulah pasti kelakuannya. Emang ngarep apa dari anak usia 2 tahun? Bisa makan sendiri dengan anteng, duduk tenang selama misa di gereja? Phew. Screw you. Apa mau juga ya kita yang dewasa harusnya yang mengerti, kalo emang nggak suka berisik, nggak suka anak kecil, ya nggak usah deket-deket anak kecil. Problem solved. Tanpa harus sibuk judge anak orang anak nakal ya kan.

Lalu kemudian, anak gue sendiri mulai masuk fase terrible two.

Yang awalnya udah caper, kalo masuk fase ini tuh kayanya capernya berlipat-lipat ganda! Hahaha

Ya kalo dulu belom punya anak sih bisa jaga jarak, lah kalo sekarang anak sendiri nggak mungkin kan. Justru peran orang tua sangat dibutuhkan untuk membantu si anak melewati fase ini. Tau kan kalo udah jadi orang tua itu kadar kesabaran harus di boost sebanyak-banyaknya, nah kalo ngadepin toodler itu setiap kali abis sabarnya harus cepet di refill lagi, lol. Stok nggak boleh sampe kosong deh pokoknya. Kita mesti arahin setiap kali si anak mulai ngaco, karena toodler itu kemauannya kadang suka barely not logical dan LUCU. Iya, lucu banget sampe kadang gue suka bingung antara mau nahan ketawa sama ngomong serius, lol

#1 – Buka Kunci Pintu

Toodler itu ciri khas paling utamanya: SOTOY

Apa-apa dia mau lakukan sendiri tanpa bantuan orang lain.

Suatu hari gue, ncus dan Leon baru sampe rumah abis jemput mereka di rumah in laws. Kemudian waktu mau buka pintu rumah, si Leon nangis kenceng banget. Karena kan dia belom pinter ngomongnya jadi Cuma bisa nunjuk-nunjuk kunci pintu yang lagi gue pegang sambil bilang ‘mama..mama’

Gue langsung mudeng maksudnya dia itu kepengen buka pintu, ya gue kasih lah dia pegang kuncinya terus gue bilangin baik-baik yuk kita buka sama-sama ya. Terus dengan kasar dia ambil kunci dari tangan gue, dilempar ke lantai. Gue yang lelah juga abis pulang kerja ya kan, udah mana bebawaan banyak, pengen cepet-cepet masuk rumah gitu, sempet bentak dia sekali. Kemudian diakhiri dengan drama dia nangis kejer dan tiduran di lantai. Akhirnya gue sambil setengah bentak suruh dia ambil kuncinya di lantai, bilangin untuk buka sendiri pintunya, mama dan ncus liatin aja. Baru deh dia bangun, ambil kunci dan kuncinya salah.

Gue kasih tau dong itu kunci gembok, nggak akan bisa masuk ke lobang kunci pintu rumah. Eh dia marah lagi. Pokoknya intinya adalah dia yang mau buka sendiri pintu rumahnya, dengan kunci pilihannya dia sendiri, lol. Gue udah setengah nahan tawa tapi nahan greget juga karena nggak bisa-bisa dibilangin. Dan drama buka pintu itu berakhir 20 menit kemudian……

Yang pada akhirnya dia kesel sendiri nggak bisa buka pintu

Yang pada akhirnya dia pegang kuncinya, gue yang arahin kunci yang mana dan gimana cara bukanya *sigh*



#2 – WHEN SOMEONE WENT OUT WITH A CAR

HE GOES TANTRUM EVERY.SINGLE.TIME

Karena dia sering diajak pergi naik mobil sama opa oma, jadi setiap kali ada yang pergi naik mobil dan dia nggak diajak, Leon langsung tantrum. Nangis kejer terus marah-marah, pada siapapun yang lagi gendong pasti dipukul L

Yang ini gue sendiri masih bingung gimana cara ngurangin tantrum-nya, masalahnya sama yang lain sering diledekin gitu, yuk pergi yuk, yuk ikut yuk zzzzz

Padahal ya setiap pagi gue kalo pergi kerja aja harus sambil ngumpet-ngumpet supaya Leon nggak liat. Kalo sama anggota keluarga yang lain, diledekin mulu kan jadinya anaknya nangis dan marah-marah mulu, huhu

#3 – Dorong stroller sendiri

Drama dorong stroller ini ketika gue, beey and Leon lagi nge-mall. Kadang dia suka bosen kan kalo di stroller terus jadi kita turunin. Terus dia pengen dorong sendiri strollernya, yang mana dia belom bisa dorong bener gitu loh, masih mencong sana sini. Kan repot ya kalo dia nabrak orang lain, belom lagi kita jalannya jadi kesendat-sendat karena harus sambil betulin arah jalan si Leon dan strollernya. Akhirnya si Beey yang sewot, ditarik paksa gitu strollernya dan Leon langsung deh ngeluarin jurus jitunya kalo tantrum: GOLERAN DI LANTAI, lol.

Dibujukin, dibilangin baik-baik kalo strollernya biar papa yang dorong aja, dia tetep nggak mau. Malah makin menjadi nangis kejer sambil guling-guling. Akhirnya gue gendong paksa aja terus gue time out di pojokan. Metode time out ini so far sih paling ngefek sama Leon, kalo bahasa jadulnya time out itu di setrap lah gitu. Sebisa mungkin kalo mau marah sama anak jangan depan umum, karena berdasarkan pengalaman masa kecil gue dan Beey yang sering dimarahin depan umum, ya kita merasa sekarang saat jadi orang tua, kita nggak mau anak kita ngerasain kaya gitu. Makanya gue dan Beey lebih suka metode time out.

Akhirnya drama stroller ini berakhir setelah 5 menitan di time out, Leon kalo udah di time out gini, ditunggu sampe nangisnya selesai, baru deh diajak ngomongnya nyambung.

Kunci menghadapi fase terrible two ini adalah kita sebagai orang tua harus tegas dan disiplin. Nggak boleh gampang ngalah sama anak, ketika si anak tantrum entah sambil nangis kejer atau guling-guling di lantai, percayalah mereka hanya ingin cari perhatian supaya keinginannya dituruti. Dan jika pada awalnya kita emang nggak memperbolehkan sesuatu, ya kita tetep harus stick to the point whereas we said no at first. Nggak usah mikirin malu diliatin orang, anaknya dikatain kaya anak kampung lah, SABODO TEUING. Yang penting bukan omongan dan persepsi orang, yang penting adalah kita mendidik dan mengajarkan anak hal yang baik. Biarin aja dia tantrum depan orang dan kita di cap orang tua yang nggak bisa ngajar anak, lah wong ini juga lagi diajarin si anaknya kan mana yang baik dan mana yang buruk. Namanya juga anak kecil, mana sih mereka tau kalo guling-guling di lantai itu salah dan bikin malu? Mereka sejatinya hanyalah manusia kecil yang lugu dan polos, maka kita sebagai manusia dewasa lah yang harus memperkenalkan mereka ke kanyataan tersebut.

Will post more, see ya!

- x o x o

Auto Post Signature

Auto Post  Signature
Back to Top