Find Me on Social Media

Menjadi Dewasa dan Pilihan Hidup

Tuesday, 13 June 2017


Bicara mengenai pilihan hidup, apa sih keputusan terbesar yang pernah kamu ambil yang mengubah jalan cerita hidupmu selanjutnya?

Kalo gue, pilihan yang mengubah hidup gue keseluruhan and probably the most biggest decision I ever made that reflect the whole story of my life is: getting married and had a kid in my early 20’s.

While other people probably still single and joking around with their life. I decided to get married and made a commitment with my true love (:

I still remember it clearly, ketika temen-temen satu angkatan gue sibuk milih judul skripsi, gue lagi sibuk hunting bridal dan segala tetek bengek persiapan pernikahan, terus waktu wisuda juga sementara gue lagi hamil muda dan dealing with morning sickness sementara temen-temen satu angkatan sibuk memulai babak baru kehidupan mereka. Ada yang sibuk travelling dulu sebelum nyari kerja, ada juga yang udah wara wiri nyari kerjaan, daftar program MT sana sini, ada juga yang sibuk buka toko/usaha sendiri atau cuma stuck bantu usaha orang tua.



Karena ya kembali semua adalah pilihan hidup masing-masing kan, kenapa harus repot nyinyiran orang enak sih dia mah orang tuanya tajir, jadi mau usaha apa juga tinggal minta modal langsung jadi usahanya. Atau nggak usah juga nyinyirin orang kok dia kerja setahun langsung di promote sih padahal nggak ada bagus-bagusnya cuma pinter ngejilat sama cari muka aja.

Maka semua pilihan dalam kehidupan pastilah ada konsekuensinya. Kalo emang dia usaha modal dari orang tua dan ternyata dia sendiri nggak mapan dalam mengelola bisnisnya, akan ada waktunya usaha dia collapse kan. Kalo emang dia naik jabatan karena ternyata kualifikasinya tidak baik maka akan ada waktunya tau-tau dia dimutasi atau malah di-demosi kan.

Atau kalo kamu memilih zona nyaman terus-terusan, kerja stuck bertahun-tahun tanpa ada penilaian atau apresiasi positif sungguh seharusnya dipertanyakan. Apakah ada yang salah dalam diri kamu sendiri atau memang kamu yang belum berani mengambil langkah untuk mencari peluang dan tantangan baru? Karena kalo gue pribadi, bekerja selain untuk memenuhi kebutuhan hidup juga harus bisa menjadi tujuan hidup. I will never stop learning and find new things while I can. Dengan embel-embel selagi dan sewaktu gue masih BISA loh, masih muda dan capable untuk mencari hal-hal baru. Kan katanya, generasi milenial itu haus akan adventure dan selalu menyukai hal-hal baru. Cheers yok untuk kita generasi milenial! Hahaha

Atau kalo kamu memilih sebagai wanita karir sementara anak takut nggak ada yang urus, banyak sekali opsi yang diberikan seperti penitipan kakek nenek, daycare atau tenaga ahli seperti nanny/babysitter. Iya, gue akhirnya memutuskan ambil opsi yang terakhir aja untuk urusan pengasuhan anak selama gue bekerja. Karena sudah bukan waktunya si toddler yang makin aktif ini dititipkan di kakek neneknya, sudah semakin banyak kemauan dan makin aktif tentunya. Dan karena gue dan suami sama-sama nggak mau lagi ngerepotin orang tua kita, sudah cukuplah orang tua mengasuh dan membesarkan anak-anaknya sementara anak kita ya tanggung jawab kita sebagai orang tua, bukan lagi tanggung jawab kakek nenek. Gue sih nggak bisa bayangin kalo harus nitipin anak sama kakek neneknya tanpa helper, repot banget loh ngejagain toddler itu. Secara energinya juga udah nggak mungkin mampu ngimbangin kan.

Atau jika memang secara finansial udah bisa berdiri dan mengandalkan suami aja sebagai tulang punggung ya silakan jadi full time mom aja. Jadi kan drama pengasuhan anak ini nggak bikin galau lagi. Tapi lalu ibu-ibu yang full ngurus anak juga dramanya beda lagi pasti, suntuk dan jenuh karena tiap hari ketemunya toddler lagi toddler lagi. Dasteran doang sehari-hari ngurus rumah dan nyaris kehilangan diri sendiri karena terlalu sibuk mengurusi anak dan suami. I know how stay at home motherhood feels like, they evoked loneliness, frustration and boredom. *been there done that*

Setiap konsekuensi atas pilihan itu bagaimana kita menyikapinya, jangan jadi bersungut-sungut hanya karena pilihan yang kamu ambil sendiri, that doesn’t sound fair. Syukurnya sih, gue dididik dalam keluarga yang selalu memantapkan gue mengambil keputusan sendiri dan menanggung sendiri juga konsekuensinya. Orang tua sebatas mengarahkan dan memberikan nasehat baik buruknya, tapi tetep ya keputusan itu seutuhnya di tangan gue sendiri. No matter how hard it will be or how much I regret it at the very end, but still I am the one in charge for every my life changing. And that is all that matters. So that I don’t blame anyone but me.

Karena ya, sekarang gue mau fokus cari duit karena gue tau duit nggak turun dari langit.

Karena ya, gue dan suami memulai rumah tangga di usai yang masih muda jadi semua serba mepet.

Karena ya, gue punya suami yang selalu support dan memberi ruang gerak lebih dari yang bisa gue berikan, dan sewajarnya lah gue meringankan bebannya sebagai tulang punggung keluarga. Karena belakangan punggungnya si Beey udah pegel linu mulu, Lol.

But yeah, I couldn’t more thanked for the judgement who don’t know any better and brushing it off because, really, I am far too busy for all of that. I had to suffer a minor heartbreak every morning when the toddler cried and asked his mama to stay. But as like they said, the grass is never greener, and it’s something that I need to keep on mind, not only as I look forward but also back. Clinging into things as they change is still a grass is greener trap, and the way out is to simply let life unfold it with an openness to what’s to come.
Post Comment
Post a Comment

Auto Post Signature

Auto Post  Signature
Back to Top