Find Me on Social Media

Frenemies

Friday, 28 July 2017


Apa sih tuh? It happens a lot biasanya between adult women sih imho, kayanya kalo cowok jarang yang begini karena mereka kan lebih jaga pride dan ya emang kalo hubungan socialnya nggak memberikan benefit apa-apa biasanya ya udah aja gitu, nggak usah interaksi lagi juga nggak masalah. Tapi lain halnya kalo kejadian ini terjadi sama cewek, classy women to be highlight ya. Kalo masih bocah-bocah masih alay-alay sih gue juga nggak merasa ada hubungan kaya gini deh. I mean, in my teenage years gue nggak punya klasifikasi pertemanan jenis ini. Temen gue ya emang yang temen baik gitu, ada sih temen yang fake dan Cuma deket karena took benefit/manfaatin gue doang, it happens in my college years. Yang mereka emang temenan karena gue pinter dan gue dimanfaatin buat ngajarin mereka doang gitu pas ujian abis itu udah lulus ya udah bubar kita. Gue sendiri nggak masalah juga ngajarin mereka toh gue jadi sekalian belajar juga, karena masa-masa kuliah gue sibuk nyari duit dan nyari ilmu, nggak ada waktu banget nongki-nongki dan bersosialisasi di kampus. Bener-bener anak KUPU-KUPU (Kuliah Pulang-Kuliah Pulang) lah gue saat itu.



So, mari kita telataah pertemanan jenis ini: Frenemies,  an oxymoron and a portmanteau of "friend" and "enemy" that refers to "a person with whom one is friendly, despite a fundamental dislike or rivalry" or "a person who combines the characteristics of a friend and an enemy".

Itu kata mbah Wikipedia. Intinya mah ya, pertemanan ini unik. Karena both of sides keep each of one closer, but the hatred between them is real. The rivalry and the wants to betray and hurt each other are real. Like old people said, keep your friends close and your enemy closer.

Gue sendiri nggak pernah nyangka bahwa gue akan punya temen model gini. Karena dari dulu gue selalu make inner circle, temen gue Cuma itu-itu aja guys. Nggak banyak temen, nggak popular dan nggak harus petakilan bareng biar dikenal “nakal” dan “eksis”. Prinsip gue sih ya makin banyak temen makin banyak sifat individual yang harus gue pelajari dan gue as a true introvert, totally hated that ideas. Ngebayanginnya aja males terlalu banyak temen, gue bingung gimana bagi waktunya untuk kongkow ntar di geng alumni SD bareng, geng alumni SMP/SMA, geng alumni gereja or whatsoever. Karena weekdays aja udah sibuk sama urusan sendiri, entah sekolah, kuliah, kerja sampingan, les privat dsb-nya. Terus weekend masih harus repot janjian sama si A, ntar malem janjian beda lagi sama si B. Duh. Capek sih bayanginnya, Lol.

Temen-temen yang bener-bener deket banget aja nih gue nggak selalu tiap weekend ketemu kok, kadang bisa 2-3 bulan sekali baru ketemu. Terus gue kalo weekend ngapain dong? Ya pacaran. Hahahaa. Karena dulu pacar aku udah merangkap semua sih, personal trainer iya, temen kongkow iya, pacar iya, calon suami iya, ya udah paket super komplit lah. Untungnya doi juga ngerasa hal yang sama sih, kita lebih nyaman sama diri kita masing-masing dibanding sibuk membina relasi dan nyari kolega untuk di prospek-in sana sini. Weekend kalo lagi banyak duit ya kita pacaran selayaknya couple-couple lain, dating, went to the cinemas, fancy dinner or had a short escape to any place we wanted. Kalo lagi bokek, ya udah DVD-an aja lah di kost-an jadi πŸ˜„πŸ˜„

Kalo pun si Beey lagi sibuk urusannya sendiri, entah main futsal, main bola di lapangan gede, sibuk main warnet atau nge-bengkel ya gue kadang sesekali nemenin, atau lebih sering ngendog aja di kost-an streaming drakor atau west series, HIMYM, Grey Anatomy & TVD is lyfe banget jaman college years gue mah. Hard disk isiannya TV series semua, dan ya anteng aja gue seharian di kost. Ntar maleman kadang baru dijemput si Beey keluar nyari makan gituu.

Kemudian masuklah masa-masa work life, and bye-bye to those college years times. Senen sampe Jumat ketemunya orang-orang kantor doang, mulai berasa banget kikuknya ya secara gue selalu meminimalisir ketemu orang baru kan. Tapi ya hidup harus dihadapi bukan lantaran begitu gue jadi takut ketemu orang, berhenti kerja dan demotivasi sama kehidupan. Lucunya, tipe-tipe orang di kantor itu kalo diliat-liat yang Cuma ada 2 tipe aja menurut gue. Satu, tipe yang banyak mulut, gede omdo, pandai menjilat tetepi kualitas dan skillnya: zero. Dua, tipe yang kalem, ya sedikit selebor, kepo dan rasa ingin tahunya banyak tetapi kualitas otak dan skillnya: juara. Dan gue meng-klasifikasikan diri gue adalah yang nomor dua tentunya. Maka, orang-orang tipe satu dan tipe dua ini biasanya yang kemudian membentuk suatu hubungan we often called, frenemies.

Mereka yang selalu beda ideologi dan pemahaman yang bertolak belakang tetapi karena satu dan lain halnya tetep berada dalam 1 inner circle di kantor. Ya kalo makan bareng, ya kalo ngerumpi bareng, atau ya kalo pulang bareng juga. Semakin menjadi lucu ketika satu sama lain saling memuji dan membela karena merasa “satu permainan”, Karena pada dasarnya membina circle di kantor are often quite challenging. Coba aja lihat mereka-mereka yang menduduki top level dalam pekerjaan, apa iya masih punya inner circle? Jika mereka terlihat bergerombol pastilah diskusi pekerjaan juga yang dibahas, saling me-lobby dan saling mencari benefit satu sama lain. Jika mereka terlihat menyendiri, pastilah mereka yang disegani dan kurang disukai. CMIIW ya  😁

Maka, jika kita sudah punya grup satu permainan mati-matian akan bertahan tak peduli bagaimana sifat orang-orang dalam grup itu. Coba aja lihat, jika salah satu tidak masuk atau lagi nggak ngumpul bareng maka dia-lah topik perbincangannya, despite of gossiping about the boss ya. Topik yang satu itu mah nggak akan lepas dari obrolan kita-kita yang masih bottom level aka kacung kamprettts, wkwkwk.

Lucu ketika salah satu dari grup inner circle berusaha mencari peluang yang lebih baik, entah dari sisi income atau jabatan, waktu masih tahap-tahap awal seleksi mah semua semangat menyemangati, ngasih motivasi, walaupun dalam hati disertai harap-harap jahat, you wont get it. Eh terus beneran dapet yang lebih baik dan meninggalkan semua nestapa di tempat kerja situ, maka mulai lah mereka semua menyeringai bak serigala berbulu domba. Nanti aku dimasukin juga dong supaya rejekinya bagi-bagi sama temen sehidup seperjuangan, olrait. Dari situ udah mulai terasa hawa-hawa kesirikan dan doa-doa yang tidak tulus terucap dalam pikiran masing-masing. Karena hakikinya, doa yang tulus dalam inncer circle se-grup sepermainan dalam work life is totally bullshit. Kalo bisa diselengkat mah diselengkat deh kita pasti.

And things repeat itself even at the NEW working place. No one is true and has a kind heart in office lah, imho. Faktanya di kehidupan pekerjaan itu ya kita yang selevel akan saling senggol-bacok-selengkat mode on, sementara yang beda level ke atas: either kita di jorrr abis-abisan , dimanfaatin terus, dipakeeee terus without any rewards. Or, we either has a sweet tongue. Jilat terus bosque-nya sampe harga diri pun tak ada nilainya. Which one are u?

Gue sendiri ternyata setelah beberapa kali pindah tempat kerja, dan menemui hal yang serupa. Sampe sekarang belum ada trigger untuk menyerah dengan social life in work ini sih. Prinsipnya yaa gue kerja untuk menafkahi diri sendiri dan keluarga sendiri, being myself is key. Kalo bos nyuruh kerjain ini itu ya gue lakukan, until the finish line. Kalo salah dan nggak bisa ya gue belajar sampe bisa, no giving up is a must kalo kerja. Hasilnya mau baik atau tidak ya yang melakukan penilaian adalah atasan kita, nggak usah di embel-embelin sweet tongue supaya hasil jelek jadi “keliatan” bagus. Idk about you, but that won’t be me. I know some peoples yang even duit gajinya nggak cukup karena setiap hari harus beliin atasannya kopi mahal, or fancy things, to cover up his/her dirt, to make good bargaining to get promotion or higher wages, geez.

Dan sialnya, gue yang se-level jadi dengki sendiri karena gue yang kerjanya paling bener dinilai biasa aja, sementara dia yang kerjaannya so-so tapi sering traktir bosque-nya eh sekarang levelnya dept. head, ckckck. In less than a year bokkkk, he got promoted. Miris.



source

Pernah juga gue diselengkat nih orang lain ceritanya, idk about you guys, tapi kalo gue dapet tawaran pekerjaan yang di luar field dan capability gue ya, sementara gue tau betul temen (yang katanya) baik lebih punya high and better chance daripada gue, gue sih without doubt akan kasih dia aja. Let him/her try their best, toh hasilnya lolos atau nggak bukan gue kan yang menentukan. Gue malah bersyukur bisa bantu temen, tapi ternyata saat gue dalam posisi kebalikannya itu, (yang katanya) temen gue ini tau betul gue lebih capable about that job eh malah dia dengan kemampuan yang yaelah itu, sok-sok apply and they throw it like a rubbish in front of my eyes. Speechless?

Pernah jugaaa gue yang katanya kaya kutu loncat karena pindah-pindah kerja ini diragukan, kenapa sih gue bisa dapet kerjaan dengan offer yang lebih baik sementara dia kerja bertahun-tahun stuck aja di situ-situ doang. My words are gonna harsh, beware nih ya. Sekarang berkaca lah sama diri sendiri, kerja tahun-tahunan demi apa? Mau nyari karir atau nyari duit? Udah tau kan situasi kerja yang gue jabarin di atas itu, I can’t imagine if I had to stay for years sih. Prinsipnya, ya kalo gue nggak kompeten nggak akan gue di offer di tempat lain toh? Kalo kalian di offer perusahaan lain means you are worth enough to get a better chance. Kerja tahunan tapi nggak promoted-promoted, level masih segitu-gitu aja kalah sama yang fresh graduate, gue sih ogah. Maka berkaca aja guys, if you still at your comfort zone there must be something wrong about you. It explains yourself enough why you stuck in there, or why you don’t get a better offer of other companies. Kenape lau pake ngeraguin kompetensi orang lain yang sukses padahal dulunya se-level sama lau padahal the problem is not them but lau. LUCU.

More funny things is, mereka yang meragukan itu berasal dari inner circle gue. So like I said, frenemies does exist πŸ˜„πŸ˜„

- x o x o

Post Comment
Post a Comment

Auto Post Signature

Auto Post  Signature
Back to Top