Find Me on Social Media

Parenting is a Battlefield

Wednesday, 13 September 2017


Don’t you agree?

Ibu-ibu pasti sering banget lah nggak usah ditanya, kadang ya gue kalo ke pasar bawa-bawa Leon aja suka ada aja tuh ibu-ibu kepo bin random yang komen, anaknya gemuk ya, anaknya aktif ya, hebat loh urus sendiri anaknya ditenteng ke pasar juga. And the blah blah blaaahhhh…. Padalah doi nggak tau aja gue full time kerja kalo hari biasa jadinya cuma punya jatah sabtu minggu buat belanja ke pasar, dan karena nggak mau kehilangan beberapa waktu sama si kesayangan, meski jadi repot belanjanya sembari megangin toddler yang ampun-ampunan nggak bisa dieeeeemmmm, pun tak apa lah! Yang penting abis itu ngaso nya di bakso langganan deket pasar, hahahaha…

Belum lagi kalo ketemu kerabat atau temen sekantor yang jarang ngobrol tau-tau ngobrol seputar anak, pasti nggak jauh-jauh ujung-ujungnya bandingin anak dia dan anak gue. Ini buat orang kaya gue yang paling anti basa basi dan bahasa obrolan yang nggak meaning gini bikin geregetan dah. Pengen langsung di bubar jalan tapi gimanaaaa gitu. Suka kasian juga sih mungkin dia kurang dipuji sama suami atau orang terdekatnya apa gimana makanya jadi HAUS PUJIAN banget, merasa dirinya dan anaknya paling-paling benerrrr dan sempurna. Ya padahal mah biasa aja lah, tiap orang, tiap keluarga kan punya cerita dan pengalaman yang beda-beda. Nggak bisa dipukul rata juga anak gue umur segini bisa gini loh kok anak lu belum, ih kalo gue mah nggak suka lah ikutin gaya parenting kaya gitu nggak baik kayanya, etc. Padahal gaya parenting gue mau gini mau gitu kan urusan gue sama keluarga gue, kok lu yang repot ya, ckck. Beda itu bukan berarti salah, tolong digarisbawahi lah.



Terlebih lagi ya gue sebagai working mom yang mempercayakan pengasuhan anak sama nanny/babysitter belakangan sering ngerasa ke-bully dah, indirect bullying kalo bahasa kerennya. Karena ya sebenernya mereka cuma nulis opini atau artikel seputar ibu yang baik itu yaaaa ibu yang full time ngurus anak di rumah, yang berani ninggalin karir demi anak, yang kodratnya nggak menyalahi karena setelah menikah dan punya anak ya udah kerjanya urus anak dan suami, omg. Nggak salah emang kok, namanya juga opini. Cuma kan sedih dengernya kesannya gue nggak sesuai kodrat, not belong in the society eh? Padahal mah jamannya juga udah nggak melulu istri di rumah doangan itu menjadi tolak ukur kebahagiaan rumah tangga. Karena in my case, gue nggak bahagia kalo di rumah doangan hahaha. Being a full time mom is truly a joy, it’s truly who I am. Being hectic in the morning preparing breakfast for my husband, ironing our shirt to be wear today, cooking for today’s toddler food and snack, while I still have an important presentation to do in the afternoon. And keeping all of the work (both of household work and my office work) is something challenging and fun things to do, you know.

I once tried to be full time at home, terus malah mati gaya dan semua jadi acak adut gitu. Karena kadang si Beey bangun aja gue masih bobok sama Leon, bangun udah keburu siang. Bangun baru mulai masak buat makan gue dan Leon, terus belom mikirin berbenah rumah, cuci baju, cuci piring, nyapu ngepel. Giliran selesai udah waktunya bobok siang kemudian bobok lagi aja sama Leon. Bangun udah sore paling sesekali main ke taman atau ya udah main di rumah aja berduaan sama Leon. I enjoyed it though, but it drained all of my soul. Lebay sih tapi bener. That’s why gue lalu memutuskan untuk back to the office, and guess what, I feel all aliveeeee! Hahahaha

Dan makanya gue sih paling nggak pernah judge either a woman is a full time mom, or a working mom. Karena yang mana pun ya itu mah pilihan hidup masing-masing lah. Tinggal gimana mereka menyikapi dan meresapinya, jangan udah ambil suatu pilihan terus karena ya nggak ada pilihan lain jadi menclak-meclak sendiri, nggak hepi. Kalo udah milih jadi IRT aja ya udah diresapi perannya nggak usah banding-bandingin sama peran orang lain yang beda dengan peran kalian, atau pun yang milih jadi WM kaya gue ya udah dijalankan dengan baik segala tantangan dan kesulitan yang dihadapi. Nggak usah mengeluh dan membanding-bandingkan diri dengan orang lain yang beda pilihan dengan kalian, apalagi cuma untuk mendapatkan reward buat diri sendiri. Apa lah untungnya, seriously?



Gue sebel tuh kalo ada temen kantor yang ngomongin temennya misal, dia mah enak IRT bisa masak buat anak aja di macem-macemin, nggak kaya kita yang WM gini masak aja jarang. Lah. Gue sih nggak ya, masak masih tiap hari kok. Bahkan temen gue yang IRT aja malah nggak masak karena nggak bisa masak, Lol. Kalah doi sama gue yang kerja, jadi ya nggak usah banding-bandingin gitu lohhhh ah. Atau obrolan macem gini, yang sering banget ngomong enak ya orang tuanya masih mau dititipin anak jadi bisa kerja nggak pusing mikirin anak sama siapa. Lah, itu mah not even a case sih ya. Karena faktanya anak gue mah di rumah sama ncus doang udah nggak nitip orang tua. Karena mereka ya punya kesibukan sendiri, terus udah hidupnya membesarkan anak ya kan, giliran anaknya pada gede kan wajar lah orang tua kepengen bebas dari urusan ngurus anak. Anak kan tetep tanggung jawab kita masa lantas gara-gara bela-belain mau tetep kerja jadi nyusahin orang tua? Puji Tuhan sih gue dapet pekerjaan yang memungkinkan untuk hire a nanny, makanya jadi nggak ngerepotin orang tua lagi. But againnnnn, bukan untuk dibandingin sama kalian yang nggak sanggup untuk hire nanny. Kalo emang nggak memungkinkan titip sama orang tua, ya go hire a nanny, find a job that provide you with higher salary.

Being a parent is challenging. Not only because we need to raise an innocent-no-idea kind of a kid, but also because we suffered and struggle from other people’s judging. It sometime can make us anxious and felt like everything we did was not right. Yeah, parenting is hard.

Karena entah kenapa, semua orang punya anak itu erat banget dikaitkan dengan penilaian. Rasanya kita harus sempurna dari ujung kepala sampe ujung kaki baru dianggap benar dan layak sebagai orang tua. Kita akan dianggap mampu membesarkan anak dengan baik kalo segala hal yang kita jalani sesuai di mata society. Is it true? U tell me, then.

Buat gue pribadi sih, it’s true that parenting is a battlefield. Tapi battlefield seperti apa yang mau gue hadapi gue sendiri yang tentukan. Karena berhadapan dengan orang-orang judgemental bukan tipe gue, gue lebih suka peaceful time. Lebih baik gue kehilangan teman daripada punya satu tapi bisanya nyalah-nyalahin atau banding-bandingin doang. Negative people brings us a negative impact though. Ketemu orang yang model gitu bikin hidup nggak bahagia, bawaannya kita uring-uringan pasti kan, terus juga jadi nyari celah untuk pembenaran akan diri sendiri terus. Nggak ada habisnya, nggak ada ujungnya.

Kita aja udah nggak bisa ngelak dari battlefield di rumah, ngurus toddler yang ampun-ampunan menguras emosi. Udah abis waktu kita sebagai orang tua untuk mendidik dan bimbing si anak agar kelak jadi orang yang punya tata krama dan sopan santun. Belum lagi perjuangan untuk ngajarin segala tutur kata yang baik dan melatih mentalnya supaya kelak mampu menjadi orang yang tangguh dan rendah hati. Padahal kalo sekarang masih toddler mau minta minum aja kudu teriak, segala barang dilempar, belum lagi kalo kemauannya nggak dituruti disertai tantrum dan tangis jerit-jeritan. Phew.

It’s already a battlefield between you and your kids. Don’t bother the other people, let us mind our own family, so you better mind your own family too! ;)

- x o x o

Post Comment
Post a Comment

Auto Post Signature

Auto Post  Signature
Back to Top