Find Me on Social Media

The Man who Bring the Best of Me

Wednesday, 15 November 2017


Udah kece belom judulnya? Uhuk uhukkk….

Suddenly, out of the blue, gue pengen aja nulis tentang mantan pacar gue ini. Secara sekarang udah saling berdampingan dan ngasuh anak bareng, padahal dulu ketemunya sama-sama masih cilik. Been 11 years together, and 3.5 years as husband and wife pastinya banyak lah ups and downs nya. Nggak melulu juga kita lovey dovey, ada juga kok selisih pendapat dan banyak lah hal-hal yang nggak semestinya diributin tetep mancing emosi satu sama lain.

But amongst all those things, ternyata kebersamaan yang gue dan Beey jalani selama ini menurut gue banyak membawa perubahan terhadap kepribadian masing-masing. Setiap kali gue berkaca, atau nostalgic sambil liatin foto-foto jadul di Facebook, ternyata Janice yang sekarang udah berubah banget loh. Dan nggak menampik kenyataan bahwa 11 tahun hidup gue isinya Dirga melulu ya pasti lah pengaruh banyaknya karena dia juga.

I still can tell you how grateful I am to met him at the first place. Because he changed the way I think, he lead my way to be a better person. And here is why I love him because he influenced so much in my life.

Berani speak up dan beropini

Dulu gue paling takut berdebat sama orang yang beda pendapat karena dulu gue introvert stadium 4, yang kalo terima kritik dan di tegasin orang gue cuma mingkem terus nangis di bawah shower semalem suntuk. Tapi karena sense gue untuk baca mimik wajah dan gesture orang itu tinggi banget, kadang gue bisa baca pikiran orang lewat emosi, postur dan gerak gerik mereka maka gue lebih banyak preventif terhadap hal-hal yang bau-baunya frontal.

Begitu ketemu si Beey, dia kan orangnya frontal dan menclak-menclak ya. Seringkali tiap berantem cuma satu arah jadinya dia doang yang sewot marah-marah sementara ya gue diem aja kaya patung, pun kalo dijawabin kan gue jawabnya kepotong-potong suara tangis dan nggak jelas itu malah bikin dia makin geregetan dan spaneng, lol.

Been such a hard time for both of us, karena gue paling nggak suka marah yang ngomel menclak-menclak. Kalo gue yang marah biasanya gue lebih banyak diem dan moody all day, nanti dibujukin sama dia kenapa kok diem aja baru gue cerita kenapa-kenapanya, itu pun ujung-ujungnya gue yang nangis, duilaaa. We figure things out jadi gue lebih prefer berantem lewat tulisan supaya emotionless, atau lambat laun ya udah berantem nya saling ngomongin aja depan muka masing-masing.

Dan ini impact banget terhadap kehidupan gue di luaran, kalo emang nggak suka sama orang ya gue utarakan sama orang yang bersangkutan dan nggak dipendem-pendem lagi. Ini bikin hidup gue easier karena dengan memendam emosi itu gue kesannya weak dan cemen sih, padahal emosi yang nggak tersalurkan dengan baik itu ujung-ujungnya kita sendiri yang gila.

Apalagi kalo pas berbeda pendapat dan prinsip sama orang lain which is makin dewasa akan makin banyak menghadapi hal kaya gini kan. Kalo nggak berani speak up, ya selamanya cuma jadi robot yang nurut aja apa kata orang sehingga kita sendiri kaya nggak punya prinsip  hidup. Padahal hidup yang jalanin kita sendiri loh, apa iya kita mau hidupnya disetir oleh orang lain? Apa bahagia dengan kaya gitu?

Self priority

Ini maksudnya ego terhadap hal-hal yang memberi benefit baik buat diri sendiri dan keluarga kecil kita. Dulu tuh ya gue orangnya nggak enakan (ya sekarang juga sih tapi lebih berkurang lah dibanding dulu), jadi seringkali kalo dimintain tolong yang ujung-ujungnya nyusahin tetep gue lakuin karena gue nggak enakan sama orang tersebut.

Nolak takut dikira sombong ya kan, tapi ternyata kalo dijalanin bikin sengsara diri sendiri. Dulu gue sering disemprot sama Beey, kenapa sih lu iya-in kalo emang lu nggak mau dan nggak suka? Gitu.
Puncaknya hal ini terjadi waktu gue kerja di tempat yang lama, dimana gue sempet bullyingable banget sama (yang katanya) temen kantor gue. 

Pernah gue bahas garis besar kasusnya di sini : Frenemies

Nah waktu itu gara-gara kasus tersebut, gue maka mati-matian find my way out to prove them that I am much better than them. Sekarang sih iya gue berhasil keluar dari nestapa itu dan bener pembuktian kalo ternyata nasib gue lebih baik setelah itu, and ever since that time, gue nggak lagi mau mikirin orang lain or being such a people pleaser. I rather be a selfish one. Bodo amat deh, yang penting nggak ngerugiin gue, yang penting gue yang enak, yang penting gue dan keluarga gue hepi.

Ini penting banget ternyata karena being people pleaser is sucksssss. Nggak enakan itu beneran rasanya kaya sampaaaah lah, padahal secara kualitas hidup gue lebih baik kok jadi gue yang kesannya nothing? Dan si Beey bener-bener ngasih efek besar dalam perubahan gue yang satu ini. Karena kalo doi mah ya bener-bener nggak pernah nggak enakan sama orang, bener-bener suka-suka dia. Orang lain yang harus fit dan suitable sama gaya dan caranya dia. S A L U T E.



Gue belom se-ekstrim itu sih kadang masih suka mencoba menempatkan di posisi kalo gue jadi orang itu gimana ya. Tapi tetep gue pegang prinsip asal gue nggak dirugikan dan hubungan antara gue dan orang lain tersebut mutualisme, masih acceptable lah. Bahaya kalo hubungannya lambat laun jadi kaya parasit, tapi ternyata yang diparasitin nggak sadar. Been there done that.

Being truly honest

Sebenernya ini masih ada kaitannya sama poin pertama dan kedua sih, jadi dengan merasa nggak enakan kan kita cenderung nyari-nyari alesan. Ujung-ujungnya mah kita kejebak sendiri dalam kebohongan kita, pernah nggak sih kaya gini? Nah gue ini tipe yang begini lah duluuuu banget. Saking nggak enak hatinya maka kadang gue telling some white lies, bohong-bohong cantik lah gitu.
Tapi ternyata ya pada akhirnya kebohongan cantik demi menjaga perasaan seseorang itu lebih fatal daripada speak up the truth. Bahwa kenyataannya lebih baik kita bicara fakta sebenernya biarpun menyakitkan hati daripada harus bohong dan nutup-nutupin.

Ini pernah gue alami sendiri juga, which is dengan menjaga perasaan orang eh ternyata ujungnya malah semua sakit hati karena tau hal yang sesungguhnya. Dimana ternyata semua terlambat banget dan bikin harus reset dari awal lagi, belum lagi jadi bekas luka di hati semua pihak kan. Walaupun hubungan setelahnya baik-baik aja, tapi tetep lah namanya kenangan pahit dan sakit nggak segampang itu juga dihilangkan.

Maka lesson learned banget buat gue, untuk selalu bicara jujur aja lah apa adanya. Nggak usah nutup-nutupin dan mati-matian jaga perasaan orang toh sepahit-pahitnya kenyataan pasti itu yang terbaik daripada manis-manisnya kebohongan.

Misal ya contoh gampangnya, kalo ditanya orang gue cantik nggak sih. Ya jawab aja kalo emang jelek ah kalo rambut lu model gitu, atau jelek lah kalo lu masih sering nyinyirin orang. Nggak usah sok-sok bilang, “Ah nggak kok, kamu cantik apa adanya”. Lah iya padahal orang lain udah pada ngomongin kelakuan dia yang minus, terus orangnya denger kalo ternyata lu sama orang-orang lain ngomongin dia. Nah lohhhh…. Things like that kira-kira.

Nah kalo si Beey itu nggak pernah begitu jadi orang, selalu blak-blakan. Gue masak nggak enak ya dibilang nggak enak. Gue potong rambut kaya badut ancol juga dibilang jelek beneran jelek, haisss. Kalo dia nggak suka sama temennya dan dianggep toxic banget buat hidup dia ya beneran dijauhin sama dia. Kalo ditanya kenapa kok menjauh ya bilang sejujurnya kalo mereka tuh sekarang annoying dan childish maka gue nggak suka. Kalo orang yang hatinya baja, dia akan terima dan berusaha berubah. Kalo orang hatinya bengkok, ya udah laki gue dibenci abis-abisan, lol.

And…..

Last but not least, Love myself first  

The most biggest impact ever, in the last twenty five years of my existence.




Jadi dulu karena banyak cerita sedih dan memilukan happened in my life, gue lebih banyak meratapi masa lalu dan selalu hidup dengan nggak bersyukur. Selalu berusaha mencari kesalahan orang lain tanpa pernah berkaca kalo diri gue sendiri ya nggak berubah banyak, nggak berusaha apa-apa sehingga lama-lama orang kan geurah ya.

My teen life was the turning point, I hated myself so much till I always thought of suicide. Nggak menampik lah, I mean kayanya banyak orang di luaran sana pernah ngerasain pengen bunuh diri, not a common thing.

Lalu sejak ada Beey rasanya hidup lebih colorful sih, dia banyak memberi motivasi dan visi misi yang bikin gue selalu pengen fight. He always listen to my stories and never doubt. Terus dia itu selalu menomorsatukan gue dan Leon sampe sekarang, he always prioritize me and me and meee.

Kegigihannya itu jadi bikin gue merasa selalu pengen berubah menjadi lebih baik, untuk selalu menjadi kuat dan berani. Untuk nggak jadi pengecut setiap kali ada masalah, karena semua masalah ada jalan keluarnya asal kitanya bisa mikir dengan jernih, melihat segala hal dari segala aspek jangan cuma melihat dari satu mata tertutup aja.

Lama-lama pola pikir gue juga jadi berubah sih karena secara nggak langsung si Beey yang menuntun. Emang sih caranya kadang keras dan nggak habis di akal, tapi at least, semua ada jalan keluarnya pasti. Dan pasrah itu not even an option! You gotta think and find your way out, seriously.

Makanya sekarang gue jadi lebih sayang sama hidup gue, bahwa hidup gue maybe means nothing to other people but still I am someone’s something. And he prove me that.

That I am valuable and worth enough to be fight for.

So that I love myself more, and he even love me deeper.

Jadiiiii, makasih suami akuuu karena udah sangat sangat baik dan bisa menerima aku apa adanya gini. Hahaha *hoeeekkk*

The point is, kita jangan selalu nuntut pasangan gini gitu tapi harus selalu ngeliat sisi baik dan positifnya dari pasangan kita. Dengan begitu kita juga jadi less stress dan lebih menerima pasangan apa adanya. Karena penting buat kita sendiri untuk selalu merasa belum cukup pantas untuk pasangan, sehingga kita selalu bisa bersyukur akan hal-hal kecil yang pasangan kita lakukan. And I hope, gue dan Beey akan selalu merasa hal yang sama kaya gini untuk suatu waktu, sehingga kita akan sama-sama selalu bersyukur dan menerima satu sama lain. Because that’s how we managed this thing.

Thing we called, marriage.
It’s sweet.
Bittersweet, sometimes 😊

- x o x o


1 comment on "The Man who Bring the Best of Me"
  1. Makasih banyak sharing-nya Mba. Bikin keingetan diri sendiri.

    ReplyDelete

Auto Post Signature

Auto Post  Signature
Back to Top