Find Me on Social Media

Image Slider

Sentimental Series #5 : KAPAN NAMBAH ANAK?

Friday, 2 February 2018

Akhirnya gue berada di titik jenuh dan capek yang memuncak banget karena menjawab pertanyaan iseng kaya gini. Berbasa-basi itu lumrah sih sebenernya tapi kok ya orang basa-basi pertanyaannya ini lagi ini lagi, ku lelah πŸ˜“πŸ˜“

Gue nulis di sini aja lah biar panjang dan sekalian mengklarifikasi, harapannya nggak ditanya-tanya lagi, lol. But seriously guys, buat kalian-kalian siapa pun yang sering basa-basi iseng kaya gini sebaiknya dipertimbangkan dulu sebelum berbicara.

Bisa bayangin nggak kalo yang ditanya ternyata emang nggak bisa punya anak lagi? Idk, perhaps waktu kehamilan dan kelahiran anak pertama ada komplikasi sehingga menyebabkan rahimnya nggak bisa reproduksi lagi. Gimana perasaannya kalo kemudian ditanya orang, “ Kapan nambah anak lagi? ” atau  “ Kapan si anak pertama punya adik? ”

Bagi sebagian orang yang mungkin belum pernah mengalami postpartum depression, atau di Indonesia lebih dikenal dengan istilah baby blues, pertanyaan sepele macem gini itu bisa bikin kebayang lagi masa-masa depresi itu. Believe it or not.

Dan sangatlah tidak etis untuk membicarakan masa-masa kelam dan mungkin kenangan yang nggak ingin diingat oleh seseorang, imho. Bukan berarti juga orang tersebut menyesal karena punya anak, tapi ada juga yang level baby blues-nya stadium akut. Sampe ketakutan gendong anaknya sendiri, sampe nangis meraung-raung setiap kali bayinya nangis. Been there done that.


Gue termasuk salah satu survivor of baby blues ini walaupun nggak sampe akut sih. Tapi gue sungguh depressed banget saat baru lahiran dan ini disebabkan beberapa hal. Gue ceritain  salah satu penyebab terbesarnya aja lah ya, yaitu PUPPP (Pruritic Urticarial Papules and Plaque of Pregnancy).

Pasca melahirkan anak pertama gue mengalami PUPPP ini. Kalo dilihat sih cirinya seperti orang alergi, dimana seluruh badan, kaki, tangan sampe leher dan muka itu gateeeel dan bercak semua. Seluruh bagian tubuh gue bentol segede-gede gaban, bintil melenting dan rasa gatalnya itu nggak berenti sama sekali.

Rasa gatalnya ini menurut gue lima kali lipatnya daripada digigit ulat bulu. Sebetulnya PUPPP ini mostly dialami saat trimester ketiga kehamilan dan berlanjut hingga dua tiga minggu pasca melahirkan. Penyebab utamanya  adalah akibat hormone kehamilan, nggak ada penjelasan pasti kalo udah menyangkut masalah hormone mah.

Di beberapa kasus dan cerita orang-orang yang senasib, ada yang udah gatal dari hamil tapi abis melahirkan langsung hilang tuntas. Baca di sini : PUPPS It Can Happen to You Too 

But in my case, justru kebalikannya. Waktu hamil udah terasa gatal tapi masih bisa di relief pake telon Konicare yang anti gatal itu. Pokoknya nggak geremet banget lah gatalnya sehingga nggak terlalu mengganggu. Nggak ada bercak atau bentol sama sekali pun.

Begitu abis melahirkan, gatalnya langsung sadis banget. 24 jam dalam sehari gue nggak bisa berenti menggaruk. Yes, that time was the most miserable time in my entire life 😒😒

So every time I thought of it, that I have to deal with pregnancy and labor thing again, it scares the hell of me.

Beruntungnya punya suami, serta para orang tua dan mertua gue nggak kepo-kepo amat sama kehidupan rumah tangga gue. Malah mereka bilang nggak usah buru-buru punya anak lagi lah. Nggak usah banget lah latahan liat tetangga baru punya bayi, terus jadi pengen ikut-ikutan bikin anak lagi.

Makanya kalo boleh jujur, gue mah maunya nggak nambah lagi. Bukan hanya karena masalah yang gue ceritain di atas ya tapi karena setelah dialami pun punya anak itu nggak gampang. Tanggung jawabnya berat banget apalagi gue merasa dulu waktu lagi hamil Leon bener-bener unprepared.


Masih sama-sama merintis karir dan penghasilan masih fresh graduate mau punya anak gimana lah waktu itu. Kenapa dibilang unprepared karena ya emang pada awalnya kita mau menunda at least dua tahun. Umur masih sama-sama early 20s dimana emosi masih nggak stabil, sama lah kaya keuangan rumah tangga kala itu.

Karena punya anak itu ternyata MAHAL dan bener-bener biaya yang dibutuhkan nggak sedikit. Anak harus dikasih makan, minum susu yang cocok sama pencernaannya, beli popok, biaya pendidikan serta asuransi kesehatan. Belum biaya rutin imunisasi dan beli mainan serta activity book yang beda usia aja beda materi.

Via Giphy.com

Beberapa waktu lalu gue dan Beey sempat tercengang sehabis membayar biaya sekolah preschool Leon, ada biaya buku untuk satu tahun sebesar 1,3 juta rupiah. Anak preschool bookkk, masih usia 3 tahun uang bukunya sejuta tuh buku isinya apaan aja?? Dan please lah jangan memungkiri mainan yang SNI dan kid friendly sebiji aja bisa ratusan ribu rupiah.

Ini bukan juga karena sebagai orang tua kita kok kesannya materialistis amat. Bukan gitu, ini lebih ke tanggung jawab sebagai orang tua ya. Bahwa selain memenuhi kebutuhan psikis dan emotional anak, kebutuhan primernya kan juga harus dipenuhi. Ya mau nggak mau lah harus punya hitung-hitungan yang jelas.

Kalo dengan penghasilan yang saat ini bisa memenuhi kebutuhan hidup ya syukur puji Tuhan. Kalo masih gali lobang tutup lobang gimana? Apa iya nambah anak nggak bikin makin kejeblos?

Toh kalo emang gue sama suami terkesan “ itung-itungan “ ya gapapa toh sejauh ini pendidikannya sudah diusahakan yang terbaik dan sebagus mungkin. Sama halnya beli mainan pun kita beli yang proper bukan yang sekali dimainin eh malah rusak. Ya tau kan toddler kalo punya mainan, nggak mungkin banget nggak pake lempar dan banting.

Dan dengan skala penghasilan dan pengeluaran yang saat ini udah bener-bener pas banget bagi keluarga kecil kita. Kalo nambah anak ya harus hitung-hitungan lagi dari segi financial-nya, dari segi hitung-hitungan kesiapan Leon jika menjadi kakak, serta kesiapan mental gue dan Beey punya anak dua.

Dan semua hitung-hitungan perkara nambah anak lagi itu bikin sakit kepala πŸ˜‚πŸ˜‚

So if you ever ask me, KAPAN NAMBAK ANAK? KAPAN LEON PUNYA ADIK?

Let me tell you this.

I  DON’T EVEN KNOW.

Hahaha.

So please stop asking.

Via Giphy.com

Instead of basa-basi nanya hal ginian mending juga nanya perihal anak yang udah ada sekarang aja, k? Gua paling respect lah sama orang yang jarang ketemu tapi basa-basi tentang kehidupan yang existing saat ini. Bukan yang prediksian tahun-tahun mendatang yang pun gue sendiri nggak tau apa jawabnya.

Pertanyaan seperti:
“ Anak udah sekolah belum? Sekolah dimana? “
“ Aku lihat anakmu udah pinter ….. ya, kok bisa sih gimana stimulasinya ? “
“ Anakmu aktif ya, nggak repot apa tuh jagainnya? Aktivitasnya apa aja? “

Ya kalo dipilah dan disaring dengan benar pasti banyak kok bahan basa-basi yang bisa dipake selain pertanyaan iseng macem: KAPAN NAMBAH ANAK. Pft.

Siapa yang pernah ditanya gini juga terus lama-lama muak dan keki? Tos dan peluk dulu cini cini, lol.



Auto Post Signature

Auto Post  Signature
Back to Top