Find Me on Social Media

Cheesy in Love❤

Tuesday, 26 June 2018

Beberapa hari lalu ada yang DM ke Instagram nanya ke gue: “ Kenapa kok gue sama suami kelihatannya mesra banget? Apa sih resepnya? “

Nah loh. Ini pertanyaan lumayan bikin muter otak. Karena ya kalo pertanyaan seputar anak, keluarga atau cerita-cerita saat liburan sama anak gitu gampang banget dijawab. Tinggal balik ke dasarnya aja, kalo gue pernah mengalami ya tinggal sharing saat dulu gue ngalamin kaya gimana. Perasaannya saat itu gimana dan ya kalo ada masukan/suggestion ke yang nanya. Atau kalo gue belom pernah ngalamin sendiri, ya gue biasanya kasih referensi aja.

Jadi waktu dapet pertanyaan soal mesra banget sama suami, gue tanya balik orangnya. Hahaha
Bisa menyimpulkan “ mesra “ itu darimana?

Dan ternyata menurut dia (or probably some people too) sering banget lihat postingan gue yang disertai caption unyu dan mesra ke suami. Iya gitu ya? Karena sejujurnya gue sendiri nggak sadar, lol.

Mari gue jelaskan semoga penjelasannya bisa menjawab dan memberi pencerahan. Halah

Baca juga: DEEJHE XTRAORDINARY TALKS #008 - #015

Pertama, gue itu selalu punya script atau hal-hal yang mau gue utarakan dalam kepala. Saking banyaknya yang mau diutarakan jadinya ya mengalir aja gitu kalimatnya. Baru setelah itu cari foto yang tepat buat menggambarkan script gue tersebut. Jadi di gue itu terbalik, biasanya orang kan post foto baru nyari kalimat caption nya apa yang tepat ya. Sementara di gue nggak gitu. Terbayang-bayang dulu kata-kata sesuai dengan suasana hati gue saat itu. Ini gue tulis di draft notes HP dulu biasanya. Baru abis itu gue cari foto, paste dari notes ke caption, lalu upload.

Sounds pretty weird nggak sih? Or this how an introverted brain works? Lol

Dan ini nggak selalu tentang suami aja, kalo lagi feel nya tentang Leon ya sama juga kaya gitu. Kecuali foto-foto produk ya, review-review itu ya harus tau dulu produknya apa. Baru bisa ditulis deskripsi, kegunaan, efek baik dan buruk nya saat gue pake.

Kalo tulisan tentang suami, setelah diguling-guling dan dibacain dari dulu ternyata emang selalu isinya manis-manis sih ya. Ya abis gimana dong ya, masa lagi marah menclak-menclak gue rangkai dalam kalimat untuk caption foto. Nggak gitu juga kannnn, lol.

Maka yang membedakan ya gini loh, kalo lagi bete-bete an, keki atau selisih argumen sama suami ya langsung diutarakan sama orangnya. Dipendem doang mah bikin kutil ntar. Kalo langsung diomongin kan plong dan lega ya. Bete hilang, perdebatan bisa cari solusi maka kita bisa kembali team up/baikan sama suami.

Nah kalo momen-momen bahagia dan gombalan cinta, kadang nggak bisa selalu diutarakan sih. Kesibukan dan rutinitas sehari-hari bikin suka lupa untuk sekedar bilang “ I LOVE YOU “. Giliran terpisah karena berangkat kerja masing-masing, baru berasa rindu.

Momen begini yang lalu gue tulis dulu dah daripada kelupaan. Yang di update ke draft nggak cuma kata-kata manis yang lagi bikin mood happy. Kadang list to do, list groceries, list pemakaian kartu kredit sama list yang mesti dibayar-bayar juga gue tulis!

The point is, every moment you’ve spent together with your kids and husband, feel it. Momen apapun setiap kali pasti ada luapan emosi. Entah itu happy, haru, sedih, guilty, bingung or even angry. Apapun itu, resapi. Pasti selalu ada hal yang ingin kita beri. Entah hanya sebatas tulisan manis untuk dibaca nanti. Atau hadiah kecil mewakili perasaan bisa jadi.

Kedua, selalu ingat bahwa kesibukan kita merawat anak kan sama-sama suami juga. Jangan lantas anak di prioritaskan tapi suami jadi terlantar. Mungkin saat ini anak-anak masih kecil dan butuh bimbingan. They need us 24hours for teach them manners, feed them good food and learn new things together. But as they grow up, they’ll need us less and less.

Nanti akan tiba waktunya anak-anak bertumbuh dan punya kehidupan sendiri. Yang tersisa siapa lagi kalo bukan suami? Maka gue selalu berupaya menyamaratakan prioritas ke suami dan anak. Meski perlakuannya sekarang bisa beda ya karena kan kalo anak mah masih harus dicebokin dan disuapin. Kalo sama suami ya nggak perlu kan yaaa, tinggal sesekali siapin makanan favorit dan ajak pacaran sementara anak titip nanny atau orang tua juga cukup nyenengin hatinya :)

Dulu waktu Leon baru lahir, gue ngalamin baby blues parah banget. Dalam sehari itu gue nangis sama banyaknya kaya si newborn nangis. Boro-boro punya waktu urus suami, urus diri sendiri aja kagak bisa. Suami dengan sabar selalu support dan jaga perasaan gue. Kalo urusan bantu jaga anak mah si Beey paling numero uno deh. Mandiin, nemenin main, nyuapin dan nyebokin dia sigap pokoknya.

As the time heals and my postpartum depression getting better, gue malah terlena sama keasikan merawat bayi. Kaya baru berasa happy banget punya bayi gitu. Karena awal lahiran mah bener-bener mental struggling banget. Nah gara-gara ini gue malah jadi menelantarkan suami. Pulang kerja langsung pegang bayi gantian sama mertua, nggak nyiapin makan malem suami padahal suami pulang kerja malem udah lelah letih lesu. Besok nya juga boro-boro inget suami sarapan atau lunch apa.

Pada akhirnya saat itu sikap gue di komplain lah sama si Beey. Bahwa dia juga ingin diperlakukan sama seperti anak, ingin disayang dan dirawat istrinya dengan kasih sayang. Mungkin si Beey bisa afford makan apa ya tinggal beli, no ribet kan. Tapi bukan itu yang dia cari karena kalo kaya gitu dia mah nggak butuh istri atau pedamping hidup. Wagila sih saat itu gue pengen ngutuk suami banget. Tapi setelah gue renungin dan bicara dari hati ke hati, kita akhirnya menemukan akar masalahnya dimana. Kenapa gue sampe nggak inget urus suami. Things such like that. We figure out.
Makin ke sini gue makin ngeh kenapa saat itu suami komplain sampe segitunya. Karena sebenernya doi peduli akan kelangsungnan rumah tangga kami. Kalo salah satu nggak happy dan menyimpan resah, gimana bisa rumah tangga jalan dengan baik. Mungkin di luar sana ada yang suaminya tipe yang fine-fine aja. Gapapa nggak keurus yang penting istri nggak kecapekan dan anak full service. But again, every family condition is different.

Suami gue tipe yang menjunjung harmonisasi. Dia nggak mau apa-apa sendiri. Family is over everything else. And I agree with him in this case. Padahal keluarganya menganut paham patriarki banget, dimana suami nggak mestinya ngerjain urusan domestik. Tapi si Beey tetap sigap dalam hal apa pun. Kalo pas anak sakit sementara gue ada meeting penting di kantor yang nggak bisa ditinggal, dia siap stand by jaga anak. Atau kalo lagi ditinggal nanny gini, dikasih kerjaan rumah juga dia mau kerjain tanpa diminta.

As long as we are together in this. Karena yang diminta suami sebenernya nggak berlebihan kok. Cuma minta diperhatikan dan disayang sama istri sendiri. Justru gue bakal lebih worried kalo dia nggak ungkapkan from the very first. Probably he may seeking love and attention from anyone else? Idk. But I believe in him, he want the best for the family. He want a change for our own sake.

Don’t forget that sometimes as a part of growing up, we need changes. Don’t you agree?
Makanya balik lagi sama prioritas dan prinsip masing-masing. Ibarat kata kaya kita lagi naik gerobak, rodanya harus berfungsi semua. Kalo ada satu roda yang rusak, mau gimana tuh gerobak berjalan dengan baik?

Satu hal lagi, kadang kita juga suka lupa menyenangkan hati orang lain. Tapi menuntut orang lain selalu jaga perasaan dan berusaha nyenengin hati kita. Pernikahan nggak akan berjalan mulus kalo kita cuma nuntut. Words are no use without actions.

Dengan pribadi gue yang sangat tidak ekspresif ini. Kalo happy, marah atau sedih gue itu nggak bisa nunjukin. Emotionless. Gue cuma bisa ngutarain lewat tulisan. Dari situ juga si Beey bisa membaca wah ternyata gue lagi mixed feelings karena ini toh. Gitu. Ini milestone banget dalam hubungan kami sih, karena dulu gue cenderung mendem. Jadi si Beey juga capek gimana sih mesti nyenengin hati istri kok kayanya salah mulu.

Baca juga: Cotton Candy

Jadi ya banyak-banyak lah sharing dan berkomunikasi sama suami. Kadang sejak punya anak susah banget bisa ngobrol dan quality time. Mau ngobrol serius digangguin anak mulu. Mungkin bisa diakalin dengan atur waktu berduaan aja sama suami, atur waktu sama orang tua atau ipar ada nggak yang bisa dititipin anak sementara. Atau ya bisa juga bikin dalam tulisan sehingga suami bisa baca isi hati kita sebenernya lagi kaya gimana sih.


Here some words for you who may need to tell your loved ones, how much you love them…

Teruntuk kamu sosok yang selalu setia mendengarku bercerita tentang angan dan mimpi….

Mengucap janji sehidup semati denganmu di hadapan Tuhan tak pernah kusesali. Bersedia dalam untung dan malang serta saling mencintai. Sungguh perjalanan panjang hingga kita bisa sampai di sini. Namun setiap kesusahan selalu mudah dijalani bersama kamu yang paling bisa menjaga hati.

Saat ini mungkin waktuku sedikit dan habis untuk membesarkan sang buah hati. Terkadang tanpa sadar kita semakin berjarak dan saling menyakiti. Kesibukan sehari-hari, rasa penat serta letih sungguh menguji kewarasan diri sendiri. Hingga lupa cara untuk saling menyayangi dan berkomunikasi.

Mungkin sering kali emosi membuat kita tak tahu cara untuk apa lagi berjuang kini. Percayalah kasih, tak pernah berubah rasa ini dan jangan pernah sangsi. Entah lelah entah sedih, semua akan sirna tanpa disadari. Tapi mencintai adalah urusan hati yang tak akan bisa kita pungkiri.

Semoga sampe kita tua nanti, sudah peyot dan keriput sana sini. Masih bisa bahagia hanya dengan bergandeng tangan sambil berharap waktu berhenti. Untuk kita mampu saling mengucap terima kasih atas semua hal yang pernah kita lalui. Saling memiliki satu sama lain hingga waktu kita habis kini dan nanti
1 comment on "Cheesy in Love❤"
  1. Wah aku dulu juga sempet kena baby blues pas aank pertama lahir. Untungnya gak lama bisa sembuh gegara anak kena hernia. Hiks. Semangat ya mbaa

    ReplyDelete

Auto Post Signature

Auto Post  Signature
Back to Top