Find Me on Social Media

Mengajarkan Alergi pada Anak

Tuesday, 30 October 2018



Bahasan tentang alergi ini dari perspektif gue pribadi ya. Bagi yang belum tau, Leon punya eczema dimana kondisi kulitnya bisa ruam kemerahan disertai gatal, dipicu dari alergi makanan. Beberapa makanan yang bikin kulitnya rash parah itu telur, susu dan kacang. Which is, semakin bertambah usianya semakin susah membatasinya.

Dulu waktu masih full ASI, kuasanya ada di tangan gue sepenuhnya. Masih bisa lah kita sebagai ibu pantang semua alergen supaya si baby nggak sampe kumat alerginya. Tapi ya seiring bertambah usia anaknya, kirain mah bakal lebih mudah kontrolnya. Ternyata, salah besar euy.


Di usia Leon sekarang (3.5 tahun), dia udah mengerti segala jajanan dan makanan enak. Doyan banget dia makan pizza, ice cream dan cokelat. Kalo ngikutin strict mah, gue nggak akan kasih ketiganya, sama sekali. Pizza ya udah pasti adonannya mengandung telur, sama juga ice cream dan cokelat yang mengandung susu atau kacang. Kuncinya di gue adalah harus gercep alias gerak cepet. Jadi kalo ada anggota keluarga, temen atau abis acara ulang tahun dan ada bingkisan berisi cemilan harus langsung diumpetin. Hal ini gue kordinasikan sama nanny nya Leon juga, nanti pas gue udah balik kerja baru gue inspeksi deh cemilan mana yang aman buat Leon.

Ini baru perkara cemilan. Belom makanan lain entah masakan rumah di rumah opa oma, di restoran atau rumah orang lain. Paling susah itu meminimalisir masakan tanpa kecap (kacang kedelai) baik manis maupun asin, bumbu-bumbu lain yang nggak bisa ditolerir sama kondisi Leon. Pernah loh suatu kali makan bubur ayam di hotel pas makan pagi, padahal biasanya makan bubur di restoran gitu nggak apa-apa. Eh giliran di hotel ini abis makan buburnya langsung gatal dan merah semua sebadan-badan. Entah apa kandungan bumbunya nggak cocok, atau peralatan masaknya yang terkontaminasi alergen si Leon.

Dan jangan pernah lupa untuk prepare dan stand by obat-obatan pertolongan pertama pada alergi. Kalo Leon karena reaksi awal adalah gatal, maka yang paling penting gue selalu stand by: antihistamin. Ini gue percayakan pada Ryvel syrup, mengandung Cetirizine yaitu obat antihistamin generasi kedua. Bekerja dengan cara mengikat zat di dalam tubuh yang menyebabkan reaksi alergi sehingga akan meredakan reaksi alergi tersebut. Sisanya silakan di googling sendiri aja, terakhir kali sih beli ini pake resep dokter kulit. Jadi gue juga nggak tau ya apa bisa dibeli sendiri di apotik atau nggak.

Untuk meredakan kulit merah akibat reaksi alerginya, gue selalu pake salep Noroid. Salep yang ini steroid-free jadi setiap hari dipakai rutin. Sehabis mandi, sehabis keringetan pun tetap dipakai lagi gunanya untuk melembabkan kulit, karena kulit eczema itu paling haram kalo sampe kering. Gue pernah bahas beberapa skincare yang rutin dipake Leon ya.


Sekarang karena makannya makin susah dijaga dan udah nggak se-ketat dulu, dokter kulit udah mulai kasih salep dengan kandungan steroid. Salepnya namanya Apolar, digunakan sesuai petunjuk dokter kulitnya. Perbandingan salep steroid dan non steroid nya = 1 : 2. Dan kalo lagi flare merah banget, maksimal 5 hari aja dipakainya. Kasih jeda dulu sekitar 2-3 hari, baru mulai di kasih lagi. Tapi biasanya di hari ke-4 gitu udah berkurang flare nya jadi gue stop aja, mencegah ketergantungan steroid katanya.

Ini Apolar (steroid contains)

Ini Ryvel Syrup (ini obat minum yaaa)


By the way, mohon maaf nggak bisa share nama dokter kulitnya di sini. Kalo mau diskusi kita email-email an atau lewat socmed gue aja ya. Gue pasti jawab sebisanya kok, nggak mau share nama karena ini pengalaman pribadi which is, cocok di gue dan Leon kan belum tentu cocok bagi semua orang. Hope you understand πŸ™

Kembali ke topik alergi, jadinya sebisa mungkin ya harus prepare obat. Jangan lupa juga anaknya rajin-rajin di sounding ya. Ini penting sih menurut gue karena mengajarkan si anak semakin aware dengan kondisi kesehatan dirinya sendiri. Sekarang si Leon kalo ditanya udah bisa jawab , “Itu pipinya kenapa kok merah-merah?” Leon pasti akan jawab, “Iya ini karena alergi” Lol πŸ˜‚

Kalo ditanya alergi apa dia juga udah bisa sebut semua alergennya dengan baik. Dan kalo ada orang lain kasih cemilan, dia akan tanya, “ Ini da kacangnya nggak? “ atau “ Kata mama boleh Leon makan? “

Beberapa waktu lalu, di sekolahan ada kegiatan bikin kue bareng-bareng. Sesudahnya kue itu dimakan sama-sama bersama teman sekelasnya Leon. Tapi karena dia inget pas bikinnya ada telur, dia bisa bilang sama gurunya, “Ms, punya Leon dibawa pulang aja. Kue nya ada telurnya, harus tanya mama dulu”

So sweet kan……hahahaha πŸ’™πŸ’™

Pas diceritain guru kelasnya Leon, gue langsung terkesima. Artinya semua perjuangan memperkenalkan alergi dan sounding sampe berbusa-busa itu, dia mengerti semua. Mudah-mudahan seterusnya Leon bisa gini….πŸ˜‡

Lastly, jangan lupa untuk selalu berdoa dan berpasrah pada Tuhan. Sebab hidup kita adalah dari dan hanya untuk-Nya, terlepas dari masalah alergi kulit Leon ini dibaliknya ada seorang anak kecil yang selalu membawa kebahagiaan untuk keluarga. Pada awalnya, gue sendiri merasa unfair dan menyalahkan Tuhan karena gue kan sehat dan jauh dari alergi sama sekali, tapi kenapa anak gue malah alergian.

Perkara alergi ini bikin semua biaya membengkak mulai dari biaya skincare, shampoo dan sabun aja harus khusus kan, nggak bisa sembarang karena bisa bikin kering kulitnya. Belum lagi setiap hari repot masakin dia karena sejak tau kondisi alergi Leon, sejak itu juga gue mau nggak mau harus masak. Dulu mah buat suami aja beli lauk di restoran atau catering lah, nggak suka banget harus oprek-oprek di dapur tuh.

Lambat laun gue mulai menerima kenyataan, dealing with facts that I need to change for the sake of my kid. I have to be strong and fight beside him, because yeah I believe that someday it will be all worth it 😊😊



3 comments on "Mengajarkan Alergi pada Anak"
  1. Cetirizine juga selalu ada di boks obat karena anakku alergi juga sama kucing. Ini obat membantu banget mengatasi gelaja alergi

    ReplyDelete
  2. Nah, anakku ini mba juga kena eksim. Kemarin sih dikasih puyer sama obat salep gtu, awal pencetusnya karena.. nah ini aku ga tau pencetusnya apaan, soalnya sdh diteliti satu2 makanannya ga ada yg meyakinkan. Apa harus pindah dokter kulita ya,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pindah dokter kulit menurutku hanya akan diberi obat racikan atau salep baru aja. Kuncinya tetap harus dicari tau pencetus alerginya. Mgkn dari bumbu2 dapur yg nggak keliatan spt kecap manis/asin, kaldu, gula dll jg bisa jd alergen mba

      Delete

Auto Post Signature

Auto Post  Signature
Back to Top