Find Me on Social Media

How I Deal with Social Media Anxiety

Saturday, 24 November 2018

Actually, I really excited writing about this topic. Social media, as we all know, can sometimes become a toxic. Let me tell you my story.

Beberapa bulan lalu, tepatnya sekitar Agustus 2018. Lagi bulannya kerjaan di kantor itu naujubilah. Super hectic and the tense is on the peak ⛰

As on August, the whole team is preparing company's budget for next year. Banyak banget yang harus dipersiapkan sehingga semua sibuk ya termasuk gue lah. Bukan sibuknya yang gue mau ceritain sih, tapi karena saking sibuknya itu setiap kali buka Instagram kok ya gue langsung bad mood. I think, that time I was in burnout.


Gimana nggak? Kepala pusing karena dari pagi sampe malem mengolah data dan mata depan layar komputer non stop, dealing with piles of deadlines, meetings and spreadsheets. On a casual day, hari dimana kerjaan lagi nggak begini hectic, gue masih bisa cheer up dan berasa seneng liat akun Instagram orang.
"Wah...asik ih dia jalan-jalan ke Bali sama keluarganya."
"Ih anaknya lucu banget outfitnya! Kepo ah belinya di akun mana nih!"
"Duh...si A enak banget ya hidupnya. Masih single, kerjaan mapan, rajin ikut Event Organizer makanya duitnya banyak. Gilaaa dia mau liburan lagi nih. Perasaan dua hari lalu baru pulang dari Jepang. She's pretty cool!"


Bisa kok gue santai dan ketawa aja, ikut bahagia kalo orang bahagia. Tapi saat itu nggak tau loh kesambet apaan, saking capek dan bad mood karena kerjaan jadi berasa mellow dan bete aja kalo buka Instagram. Semua frasa di hati seperti di atas itu jadi bengkok. 


Kok perasaan gue kerja mati-matian mau jalan-jalan ke tempat kece biar feed socmed juga ikutan kece, nggak bisa-bisa ya? Kok gue udah bekerja maksimal dan cari duit banyak-banyak tetep aja nggak bisa puas-puasin belanja, sekedar ganti hape aja nggak mampuuuu 😭 

I really hate myself when inferiority and anxiety hit me. Perasaan rendah diri dan cemas berlebih sungguhlah bukan perpaduan yang baik untuk kesehatan jiwa. Karena terlalu berasa kecil hati dan menganggap diri sendiri payah. Gue yang kerja dari pagi sampe malem, kena omelan bos, belum di cemberutin anak karena nggak fokus temenin dia main dan belajar. Rasanya gue gagal sebagai ibu dan istri, gagal sebagai manusia yang baik pula.


Merasa social media bisa sebegitunya mempengaruhi mood dan perasaan gue, akhirnya ya gue delete aja aplikasinya di hape. I deleted every social media platforms from my phone. Sibuk sama kerjaan ya masih. Tapi dengan mood yang terjaga baik karena hidup tanpa social media. Gue jadi lebih totalitas dalam semua hal. 

Pulang ke rumah meski capek dan kusut, tinggal mandi air hangat lalu peluk anak. Ajak ngobrol dan main, rasanya nyaman dan menenangkan. Gue jadi bener-bener "ada", being present to him. Bukan cuma badannya di rumah tapi pikiran masih melayang-layang. Semuanya, badan dan pikiran jadi terfokus sama anak. 
Terus sampe kapan tuh nggak main socmed?
Sampe gue bisa menata hati lagi💖

Kalo nggak salah sekitar dua mingguan. Gara-gara ada event sekolahan Leon jadi pengen post di feed Instagram. Tapi ini bener-bener gue udah "sembuh" (self healing). Udah kembali menjadi manusia yang nggak julid, nggak inferior dan nggak anxious lagi.

Jadi inget Podcast favorit gue: Directionally Challenged. Hosted by Candice King (Caroline Forbes from The Vampire Diaries) and Kayla Ewell (Vicki Donovan from The Vampire Diaries)

 Directionally Challenged


The whole episodes is got me overwhelmed. Mereka mengupas tuntas tentang Instant Gratification (di kita terkenalnya dengan istilah social climber, cmiiw), Tech Addiction, and Living Life Online. 

Bahasan mengenai candunya social media ada di : Episode 2: Tech Addiction

Keseluruhan ceritanya membahas efek baik buruknya kehidupan digital jaman sekarang ini bagi diri kita sendiri, anak-anak dan sekitar kita. 

Inget nggak jaman dulu kita kecil, kalo dimarahi orang tua dan diberi sanksi berupa nggak boleh main keluar rumah atau nggak dapat uang jajan seminggu? Kita udah sedih dan panik banget ya kan.

Nah, coba jaman sekarang. Nggak boleh main keluar? Oh oke, nggak apa-apa. Nggak dapat uang jajan? Oh oke, bisa lah diatur.

Tapi bayangin deh kita, di jaman sekarang lalu dihukum, nggak boleh pakai handphone dan semua akses internet dicabut! Nah loh. Meraung-raung nggak lu? 🤣


The point is, we hardly can't live without our phone and PC and also social media. Semua itu udah menjadi kebutuhan utama yang nggak bisa dipisahkan dari kehidupan. Tapi, kita sebagai otaknya, harus bisa "menguasai" semua perangkat digital tersebut. Jangan kita yang "dikuasai".

Berhubung saat ini status gue ya ibu dari satu anak, besar tanggung jawab gue untuk selalu produktif dan siap sedia setiap saat. Dan kalo kondisi mood gue berantakan, satu rumah kena imbas. Nggak adil banget buat orang rumah.
Maka gue berusaha menarik diri dari hal yang bikin mood gue kusut dan menjauh dari social media, temporarily.

Because remember this when I say it to you: You can't pour any water from an empty cup. You have to refills it first.



So, if you ever feel devastated and angry with people in your digital circle. It's okay to step out and leave from all of that "toxic". Just leave every confusing directions that leads you into a wrong way.

And just reach out to your sense, living more in the moment and focus on "real life". Make sure you are heading into the right direction💖

"The understanding of our position, clarity of the direction, and effectiveness of our actions determine the height of our destination." -unknown


8 comments on "How I Deal with Social Media Anxiety"
  1. Halo Mbak. Salam kenal, namaku Adhis. Samaaa aku juga bahas tentang body shaming di blog ku. Kalau mau lihat silakan ya... http://adhistyafdj.com/2018/11/24/think-before-you-post-on-social-media/

    ReplyDelete
  2. Emang sebagai Ibu harus bisa selalu menjaga kewarasan yaa, mbak.. Dan memang sosmed juga punya peran besar bikin kewarasan kita terganggu, hehe

    ReplyDelete
  3. Betuul.. Sesekali gak perlu scrol-scrol time line. Biasanya saya. pas baca atau lagi nglukis / gambar. Dan karena itu juga saya suka Bullet Journal. Karena kadang Bujo bisa mengistirahakan saya dari social media. 🤣🤣🤣

    ReplyDelete
  4. Huhu aku juga lagi mencoba buat mengurangi sosmed nih mbak, tapi yaa agak susah. Sosmed sebenernya ngga sampe bikin saya cemas atau gimana-gimana, karna banyak hal positif yang saya dapet di sosmed. But karna alasan positif itulah aku selalu balik lagi ke sosmed, duh. Enaknya kegiatan apa ya buat mengalihkan diri dari sosmed?

    ReplyDelete
  5. Iya... saya pernah ada masa begitu juga. Tapi saya terus ya nggak buka aplikasinya saja. Semua notification di-turn off. Jadi saya nggak pernah tahu ada update. Hape juga selalu silent. Nggak apa sih. Kalau sudah siap, ya tinggal balik lagi.

    ReplyDelete
  6. Ikutin kata hati aja kalau aku mba. Ga sampe delete2in platformnya juga, tapi terkadang bener2 out dulu dari liat2in sosmed dan bisa. Setuju kalau terkadang sosmed malah bikin kita semakin inferior sih. Menurutku detox berkala diperlukan :)

    ReplyDelete
  7. Couldn't agree more mbakkk.. Dulu saya juga sempat sign out dr semua sosmed.. Tapi yang sekarang masih susahhh... Makanya kangen tumblr yang timelinenya amannn

    ReplyDelete
  8. Omg I can really relate on the part ingin menata feed, udah nyerah aku sekarang, lebih waras ternyata hahaha

    ReplyDelete

Auto Post Signature

Auto Post  Signature
Back to Top