Find Me on Social Media

Dear Parents, Stop Making Your Nanny Play with Kids in Playground

Friday, 11 January 2019


Playground is one happiest place for kids. Tapi juga bisa menjadi tempat yang membahayakan. Makanya selalu di wanti-wanti kan, anak-anak di usia balita wajib didampingi orang tua saat bermain di playground.

Tulisan ini tercetus karena hari Minggu kemarin gue abis menemani Leon main rumah balon. Dikenal juga sebagai Bouncy Balloon. Tau kan yang modelnya balon tapi membal-membal kalo kita loncati, nah terus ada perosotan yang juga dari balon. Pernah ngerasain nggak main di situ? Mau diem tanpa kena imbas membal aja susah banget.

Image source: pexels.com

Jadi kalo ada anak di bawah dua tahun yang masih bergerak super slow dan kalo berdiri sendiri aja suka oleng, udah lah pasti di Bouncy Balloon itu jatoh-jatoh ketiban anak-anak lain.

I know this place can be super intriguing for kids. Bisa lompat sepuasnya, naik turun perosotan, nabrakin diri ke balon kemudian membal. Tapi bayangin aja anak-anak yang penuh energi dan antusias ini, apa bakal peduli sama sekitarnya?

💭💭"Wah, ada anak yang lebih kecil dari aku. Harus hati-hati dekat dia nih..."

Mungkin nggak anak-anak itu mikir gitu?

Kecil banget lah ya kemungkinannya. Dan nggak bisa disalahin juga karena segimana pun anak-anak dibilangin untuk hati-hati, ya tetep aja pasti nabrak dan tumpang tindih. Makin tumpang tindih itu makin seru malahan buat mereka.


Yang bikin gue kepikiran sampe bener-bener nggak habis pikir adalah seorang nanny dengan usia paruh baya. Mendampingi DUA anak balita saat bermain di playground. Yang satu anaknya masih di bawah dua tahun, dan satunya lagi sepantaran Leon kira-kira 3,5 tahunan.

Emak bapaknya kemana? Probably, strolling around di Mall or watching movie in cinema. Idk.


Ngeliat segimana si IBU-IBU NANNY harus ikut guling-guling demi ngejagain dua anak kicik itu. Gue sampe berkali-kali ngelus dada. Berapa kali gue lihatin dia udah kecapekan dan beberapa kali menghela napas. Tapi salut banget bisa nggak ngerant emosi ke anak-anaknya yang super aktif itu.

Tetap sabar ngebilangin baik-baik ke kakaknya untuk hati-hati karena si nanny nggak bisa pegangin si kakak terus. Adiknya lebih membutuhkan ekstra pengawasan, karena sekalinya ada yang lompat adiknya itu bakal jatoh terus bikin yang lompat jatoh juga dan bisa ketiban lah kalo nggak dipegangin mah.

Bener-bener nggak habis pikir sama orang tuanya kok bisa-bisanya itu dua balita disuruh main di playground model gitu sama nanny, yang usianya mungkin udah kepala 4 😭😭
Jadi inget kejadian beberapa waktu lalu, pas gue lagi nemenin Leon main di Kidz*ona. Ini anak kan senengnya seradak seruduk ya. Saking gesitnya dia suka gregetan lihat anak yang geraknya pelan, which is must be younger than him.

Lagi main di area bouncy terus dia lari kenceng banget tanpa ngeh kalo di sisi lainnya ada anak kecil. Akhirnya si Leon nabrak tuh anak kecil. Nangis lah anaknya :")

Padahal gue di samping Leon terus nggak pake meleng loh. Nangisin anak orang bukan cuma saat kejadian accident aja loh ya, kadang rebutan mainan atau sama-sama nggak mau ngalah saat mengantri dan nunggu giliran.

Image source: pixabay.com

Makanya definisi "Anak harus didampingi saat bermain di playground" itu bukan cuma sekedar kita nemenin main. Tapi juga dengan membimbing dan memberi tahu cara bermain dengan benar dan baik ke anak. Hal ini yang bakal skip kalo anak mainnya ditemani nanny.



Here the things, WHY PARENTS MUST STOP MAKING YOUR NANNY PLAY WITH YOUR KIDS IN PLAYGROUND:

👉 The responsibility is too heavy

Seperti yang gue bilang tadi kan, resiko bermain di playground itu super membahayakan loh. Dijaga sama orang tua aja masih ada kemungkinan anak terluka, jatuh, ketimpa, ketindih, ketabrak anak lain, ketendang sampe mental, hingga kemungkinan mengerikan yaitu DICULIK.

Kalo anak didampingi nanny di playground, lalu anak kenapa-kenapa tinggal marahin nanny deh. Dibilang nanny nggak becus jagain. But helloooo! The responsibility is ours, AS PARENTS. Cobalah bijak dan menjadi orang tua yang benar. Jangan jadi manusia-manusia banget gitu loh, greedy and irresponsible.

Iya ngerti kok mungkin fisik kita semakin berumur dan stamina nggak kuat kalo harus ngemong anak main di playground. Tapi masih bisa loh dengan cara TIDAK membiarkan anak didampingi nanny tanpa pengawasan kita orang tua. Masih bisa dengan memantau dari dekat bukannya ditinggal begitu aja.

Via Giphy.com

Apalagi kalo nanny juga usia berumur, kok tega sih ya huhuhu… Mendingan tunggu anaknya gedean deh, seriously. Anak umur dua-tiga tahun main di playground tuh nggak ngerti-ngerti banget kok. Masih ada opsi hiburan lain yang bisa bikin anak happy, main odong-odong atau main lempar bola di Timez*ne gitu juga udah happy mereka.

Kalo emang fisik kita sebagai orang tua pas-pasan, punya nanny juga berumur ya alihkan opsi bermain ke tempat bermain yang lebih ramah anak. Nanti main di playground menunggu anak usia lima tahun aja lah, nggak usah maksain situasi dan kondisi. Ya tapi ini kalo kalian masih punya hati nurani sama nanny yang usianya berumur ya.


👉It is children rights to get education and affection from parents
(How to climb, run, avoid danger like run under the swings, or sit below the slider etc)

Mengingat bahaya ketika bermain di playground itu nggak bisa dianggap serius. Maka, sudah menjadi kewajiban kita orang tua nya memberikan edukasi dan membimbing tata cara bermain dengan baik.

Nggak mau kan anak kita menjadi jerks, yang memonopoli semua permainan dan nggak mau gantian sama sekali? Atau menjadi anak yang nggak tau tata krama, simply hanya karena lupa say sorry ketika tanpa sengaja menyenggol atau menabrak anak lain?

Semua hal ini sangat penting untuk diajarkan dari usia dini supaya kelak anak-anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang baik di mata masyarakat. Mungkin sebagian orang berpikir, “Lah anak udah disekolahin mahal-mahal, udah percaya lah sama ajaran guru-gurunya. Ngapain orang tua repor-repot ngajarin lagi”


But come on, these things are different. Edukasi dari orang tua itu membentuk karakter anak secara langsung loh. Jadi kalo anak kita baik dan santun, ya karena orang tuanya mendidik dan memberi contoh yang baik dan santun.

Karena kalo di sekolah mah pelajaran baik eksak dan non eksak udah default, pukul rata bagi semua anak. Nah tinggal kita orang tua yang paling memahami karakter anak kita, mau gimana kita memberikan edukasi sesuai karakteristik anak kita.

Ibarat menanam pohon tuh ya, edukasi di sekolah semacam bibit unggulnya. Tapi tanggung jawab si Gardener untuk memberi pupuk, memberi air hingga tumbuh menjadi pohon yang kokoh dan tangguh.


Nah, balik ke point dimana edukasi ini merupakan hak anak termasuk mengajari mereka bermain dan bersosialisasi. Namanya juga playground kan sarana umum ya, nggak bisa dong kita bertindak seenak jidat tanpa mikirin kepentingan orang lain. Bermain ya boleh, tapi harus tahu kapan giliran kita, bagaimana cara mengantri, dan memberikan penjelasan cara memainkannya.

Misal, main perosotan ya harus naik tangga dan turun di slider-nya, bukan naik dari bawah karena nggak mau antri di tangganya. Lalu setelah meluncur juga harus langsung berdiri, jangan malah diam aja duduk di bawah perosotan. Kalo ada anak lain yang meluncur ya resikonya ketendang.



Hal-hal kaya gini yang kadang gue perhatikan luput dari pengawasan nanny. Giliran anaknya ketendang, dia ngomelin anak yang meluncur di belakangnya. Padahal si anak udah lama banget nungguin dan udah diteriakin untuk geser. Tapi anak yang duduk itu nggak ngerti dan malah asik aja duduk di bawah situ. Giliran ketendang eh mewek. Dateng deh terus pawangnya, lol.


👉 Kids in the playground has aggressive behaviour, it is parent's job to teach them important life skills 
(How to social interacts such as ask permission, how to take turns, not be a jerk or monopoly, etc)

Pada intinya sih selain mengajarkan hal-hal dasar seperti cara bermain dan aturan main, jangan lupa juga untuk memberikan arahan pada anak perihal tata karma (manners). Namanya kita manusia, makhluk sosial yang punya adab dalam berinteraksi tentu harus ditanamkan nilai-nilai sosial sedari dini.

Baca: Manners for Children

Dan nggak semua nanny bisa mengerti hal ini loh. Mereka mungkin paham lah kapan harus berkata maaf dan terima kasih atau cara bicara yang sopan terhadap orang yang lebih tua.


Tapi kendalanya, apa iya nanny ini mau mikirin pencapaian si anak? Paling di pikirannya yang penting sudah dikasih tau tapi anaknya ngeyel dan nggak ngerti-ngerti, jadi ya udah lah biarkan saja.

Dan memang ya nggak semua orang berpikiran seperti ini, syukur-syukur dapat pengasuh yang memang beneran bisa memberikan arahan dengan baik dan tidak neko-neko. But again ya, this should be our responsibility not the nanny.


👉 Develop bonding and relationship with children

Bermain bersama anak itu meski capek dan bikin pegel linu, membuat kepuasan tersendiri. Jadinya aku sangat lah heran pada orang-orang tua yang dengan tega membiarkan anak main di playground sama nanny doang, huhuhu 😭

Mungkin karena waktu gue bermain sama Leon itu terbatas banget. Cuma bisa di weekend kan, kalo weekday pulang udah malem ya paling main yang gampang aja di rumah. Atau malah kadang cuma menemani dia mewarnai atau mengerjakan activity book.



Tapi kalo udah weekend, dia mau ngajak main apa pun ya gue jabanin. Main bola, lari-larian, petak umpet, main sepeda atau berenang apa pun lah yang penting bisa main sama-sama dan quality time together.

Karena buat gue, menikmati main sama anak itu priceless. Soon, children will become teens and they will have their own time. Dan mungkin dalam waktu-waktu itu, momen kita sebagai orang tua yang mendampingi terus-terusan udah semakin pudar seiring bertambahnya usia anak.
Jadi inget prinsip 3 Topi dalam Mengasuh Anak (3 Hats in Parenting):



#1 - Topi pertama yang seharusnya dipakai oleh orang tua adalah Safety Helmet. Yang warnanya orange atau kuning seperti yang sering dipakai pekerja pabrik, tau kan? Nah, safety helmet ini maksudnya adalah kita masih bertanggung jawab seratus persen dalam tumbuh kembang dan pembentukan pola tingkah laku anak.

Biasanya pada rentang usia anak 0 hingga 10 tahun. Masa-masa dimana semua harus sesuai aturan serta mengarahkan hal-hal prinsipil seperti apa yang harus, boleh dan nggak boleh dilakukan.



#2 – Topi kedua sebagai lanjutan dari yang pertama, adalah Coaching Hat. Topi pelatih biasanya dipakai saat membimbing pertandingan. Artinya kita sebagai orang tua hanya berdiri dan mengarahkan dari sisi lapangan, sudah nggak in charge seratus persen lagi.

Biasanya pada rentang usia anak 11-19 tahun atau saat memasuki masa remaja. Alih-alih kita sibuk memberi instruksi, kita harusnya hanya memberi inspirasi ke anak. Supaya mereka siap menghadapi usia dewasa dan mampu mengambil keputusan secara mandiri.

Future picture of me and Leon 15years from now, Lol


#3 – Topi ketiga adalah topi terakhir yang digunakan yaitu Consultant Hat. Topi konsultan  ini biasanya pada saat usia anak di atas 20 tahun, sudah dewasa dan mampu menentukan sendiri kemauannya. Sebagai konsultan, kita hanya bisa memberikan saran. Bukan mengatur dan mendikte lagi karena anak sudah memasuki usia dewasa.

💛💛💛

Untuk mengakhiri tulisan gue yang sebentar lagi mau 2000 kata ini, intinya sih cuma: PLEASE, NO NANNY IN PLAYGROUND. Or even so, at least DON’T LET YOUR KIDS ALONE with nanny. The responsibility is too heavy for them to bear. Seharusnya tanggung jawab itu ada di kuasa kita sepenuhnya.

Semoga tulisan ini menginspirasi ya buat orang tua yang masih clueless dampak dari membiarkan anak bermain sama nanny di playground. Semoga semakin banyak orang tua yang bijak yaaa, and no offense though please. Kalo ada pandangan yang berbeda, I’m free and open to discuss banget kok…..hehehe ✌️




9 comments on "Dear Parents, Stop Making Your Nanny Play with Kids in Playground"
  1. Jennnnn, I love this!!

    You know what, jangankan nanny ya, kadang orangtua aja sering kecele lho jagain anak mereka. Pernah ya si Josh pengen main perosotan kecil yang ada di dalam mall. Jadi ini bukan playground, cuma perosotan biasa yang kayak di dalam restoran fast food gitu. Awalnya kita nggak mau dia main di sana karena ampun deh ya, anak-anak yang lagi main itu amburadul banget mainnya! Main perosotan nggak ngantri dari atas, tapi naik dari bawah. Itu aja ada mama papanya lho. Tapi anaknya gak dibilangin. Sungguh ku tak paham T_T Karena kita udah janji sama Josh nemenin dia main, yaudah papanya yang temenin dia main sekali. Abis itu cabut deh. Kita kasih tau aja ke dia, lain kali kalo kamu udah gede mainnya harus yang benar, harus ngantri.

    Prinsip tiga topi itu aku baru denger lho. Langsung di-note biar nggak lupa.

    Makasih banyakkk Jen sharing-nya! Semoga bisa menginsprasi ortu di luar sana :D

    ReplyDelete
  2. Gagal fokus sama fotonya Mrs. David B3ckam dan anaknya wkkk
    Ya ampun, aku kok ikutan ngilu y Mb
    Aku juga bersikap sama seperti dirimu, walau kadang sikapku ini dikomen sama temen "dih terlalu protektif ih, kan anak lo lakik,"
    Y namany masih kecil, y iyalah dijagain

    ReplyDelete
    Replies
    1. Believe me it's not about overprotective, but all about responsibilty sih. Demi membentuk kepribadian anak yg punya good manners di masa depan :)

      Delete
  3. Terima kasih atas tulisannya mba. Menjadi pelajaran kalau menjadi orangtua itu perlu sepebuh hati dan sepenuh waktu. Karena jadi orangtua itu pekerjaan fulltime, bukan parttime.

    ReplyDelete
  4. Kalau teman-teman asli orang bandung, sudah pasti tahu kan produk kylafood itu apa saja, yang belum tahu yuk cari tahu di sini.

    Teman-teman produk kylafood merupakan produk makanan ringan berupa seblak, bakso aci kecil, cilok, cireng, cuanki dan batagor instan tanpa bahan pengawet yang rasanya gurih dan pedas membuat hampir semua orang tergiur untuk mencicipinya terutama kalangan milenial.

    Yuk beli produknya di www.kylafood.co atau di AsroMall.com - Pusat Belanja Online

    ReplyDelete
  5. Iya juga mbak. Setidaknya mengurangi hal yang akan kita sesali nantinya. Kita gak pernah tahu apa apa yang terjadi sama keaktifan anak-anak. Apalagi mereka yang masih balita boro-boro paham efek perbuatannya. Thank you for sharing.

    ReplyDelete
  6. krn saya ga tahu model playground di mall2 jakarta, emang ga ada aturan batasan umur dan tinggi badan si anak untuk masuk area tersebut? krn di sini (selama saya tinggal di istanbul) ada batasan umur dan tinggi badan anak, minimal usia 5 tahuna untuk playground seperti di gambar, untuk anak2 balita biasanya khusus, dan ada petugas pengawas, tidak ada pendampingan, biasanya ortu atau nanny hanya menunggu di bangku2 sepanjang playground, tiap anak yang masuk main di playground selalu ditempeli stiker identitas nama si anak, semacam model kyk nitipin anak di plaground ikea. well semog para ortu2 yang pengen me time di mall mikirin juga nasib si nanny2 nya ini, kasian juga jadinya kalau harus ikutan masuk dan ngawasin. terimakasih sharingnya.

    ReplyDelete
  7. Aku juga suka greget sama anak yg main di playground bareng2 tp ga mau antri, naik peresotan dari tangga. Okelah anak2 mereka belum ngerti, harusnya yang jagain ngasi tau ya.. baru keingetan sekarang2 kalau mereka ini mostly sama nanny, jadi mungkin nanny nya juga ga dibekali cukup buat itu dan orang tua ny ngebiarin ya..

    Btw, salam kenal mba.. aku BPers juga 😊

    ReplyDelete

Auto Post Signature

Auto Post  Signature
Back to Top